http://info86news.com | Suasana Minggu pagi, 23 November 2025, terasa hangat di Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (MILOS), Saumlaki, yang berdiri di Jalan Ir. Soekarno, belakang Kantor Pengadilan Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Jemaat mulai memenuhi bangku gereja dengan salam hangat dan senyum yang akrab.
Ibadah dipandu oleh Pdt. Haris Boritnaban, S.Th, dibuka melalui pujian “Sepanjang Hidup dan Napasku Untuk Kemuliaan-Mu Tuhan.”
Musik diiringi tim singer dan keyboard yang dipimpin Ibu Gembala Sidang, Annisa Lystia Andani/Wahilaitwan.
Memasuki momen penyembahan, jemaat larut dalam doa: “Kami datang ke hadirat-Mu Tuhan, kami minta pengurapan dalam ibadah ini.
Lagu pujian berlanjut, “Haleluya, Segala Puji Syukur Hanya Bagi Tuhan.”
Doa Pembukaan Gembala Sidang
Gembala Sidang, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, memimpin doa pembukaan dengan permohonan khusus: “Kami mohon urapan atas Dr. Wisnu Kencana yang akan membagi kebenaran firman Allah. Biarlah Tuhan tolong kami, ada mujizat.
Pesan Firman: Hidup Berdampak Melalui Kebiasaan Baik
Kotbah disampaikan oleh Dr. Wishnudanu Kencana, M.Th, mengangkat teks utama dari Injil Yohanes 9:1–7, tentang kisah Yesus dan orang buta sejak lahir, satu-satunya kisah dalam Alkitab yang menjelaskan kebutaan sejak lahir sebagai catatan historis dan teologis.
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh. 9:3)
Dalam uraian yang hangat dan reflektif, ia menekankan bahwa penderitaan seseorang tidak selalu menjadi akibat dosa, melainkan wadah bagi Tuhan memperlihatkan karya-Nya.
Ia menyoroti kecenderungan manusia untuk membicarakan sebab-sebab masalah tanpa menawarkan solusi.
“Diskusi teologi tanpa solusi tidak memberi dampak dan hasil,” tegasnya.
Ia mengajak jemaat mengubah pola pikir dari menghakimi menjadi menghadirkan kebenaran melalui tindakan nyata.
Tiga Poin Utama Khotbah
1. Menumbuhkan Nilai Kebenaran, Wishnudanu mengajak jemaat berhenti hanya memperbincangkan persoalan, tetapi menunjukkan perubahan dengan hidup sebagai jawaban. “Doa tujuh kata: Tuhan ubahlah dia melalui perubahan yang ada pada kita.”
2. Mengerjakan Kebenaran yang Mengubah Tatanan, mengutip Yakobus 1:12, ia menegaskan makna ketekunan dalam pencobaan sebagai jalan kepada “mahkota kehidupan”.
“Bukan seberapa banyak kita melayani, tetapi seberapa setia kita melayani.”ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang percaya diutus, bukan sekadar hadir sebagai pengamat iman.
3. Menyatakan Identitas sebagai Utusan Kristus, melalui tindakan Yesus yang mengobati dengan ludah dan tanah serta memerintahkan mandi di Kolam Siloam, ia menegaskan bahwa mujizat bukan berasal dari metode, tetapi dari otoritas Allah.
“Bukan caranya yang menyembuhkan, tetapi pribadi yang maha kuasa itulah yang menyembuhkan.”tuturnya.
Firman ditutup dengan doa pemulihan: “Tuhan menilai kami, tolong kami, bebaskan kami dalam nama Yesus. Bebaskan jemaat yang sudah lama tidak beribadah dari berbagai hambatan.”
Ibadah berlanjut dalam pujian:
“Telah Kulihat Bukti Kasih-Mu… Terlalu Besar Kasih-Mu Bapa…”
Persembahan dan Pengumuman Gereja
Sekretaris jemaat, Ibu Joice Jhulia Romroma, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Wisnu serta kepada seluruh jemaat, kemudian membacakan informasi pelayanan: Selasa – Menara Doa, Gereja, 19:00, Rabu – Ibadah WGBI, Gereja, 19:00, Kamis – Komsel MBT, Gereja, 19:00, Sabtu – Doa Puasa masing-masing rumah, ditutup di gereja pukul 16:00, dilanjut latihan minggu raya jam 09:00 serta sekolah minggu.
Ibadah kembali bergema dalam pujian:
“Sebab Kau Besar, Perbuatan-Mu Ajaib…”
Berkat Penutup dan Persekutuan
Pdt. Heberth S. Wahilaitwan menyampaikan berkat: “Tuhan berkati jemaat, panitia, persembahan, anak-anak, rumah tangga, damai sejahtera menyertai kita semua.”
Ibadah ditutup dengan lagu syukur “Bapa Terima Kasih.” Jemaat bersalaman, berfoto bersama, dan pulang dengan sukacita.(jk)










