http://info86news.com | Saumlaki – Suasana penuh sukacita menyelimuti Ibadah Minggu Raya di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu (8/3/2026).
Sejak pagi, jemaat mulai berdatangan memenuhi gedung gereja yang terletak di belakang Kantor Pengadilan Saumlaki.
Ibadah yang dimulai pukul 09.00 WIT itu diawali dengan pujian dan penyembahan yang dipandu oleh pelayan Tuhan Bima Boritnaban, didukung tim singer dan pemusik dengan iringan keyboard, drum, dan gitar.
Lagu-lagu rohani bernuansa sukacita membawa jemaat larut dalam suasana penyembahan.
Beberapa jemaat tampak mengangkat tangan, sementara yang lain mengikuti alunan lagu dengan khidmat.
Memasuki pemberitaan firman Tuhan, Pdt. Haris Boritnaban, S.Th. menyampaikan khotbah bertema “Allah Bekerja Melalui Proses.”
Dalam pesannya, ia mengingatkan jemaat bahwa manusia sering kali menginginkan segala sesuatu terjadi secara instan.
Menurutnya, perkembangan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), telah membentuk pola pikir manusia untuk menginginkan hasil yang cepat.
“Otak kita sudah cenderung disetting untuk cepat menerima hasil daripada berproses. Bahkan ketika berurusan dengan Tuhan, kita sering ingin semuanya serba cepat. Padahal Allah bekerja melalui proses,” ujar Pdt. Haris di hadapan jemaat.
Ia kemudian mengutip Roma 5:3–4, yang menjelaskan bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji melahirkan pengharapan.
Menurutnya, proses kehidupan yang tidak selalu mudah justru menjadi cara Tuhan membentuk karakter manusia.
“Orang-orang yang dekat dengan kita sering dipakai Tuhan untuk membentuk karakter kita. Tuhan bekerja melalui proses, bahkan melalui penderitaan yang kita alami,” katanya.
Pdt. Haris menegaskan bahwa tanpa ketekunan, seseorang tidak akan mencapai kemuliaan yang dijanjikan Tuhan.
Ia juga mengingatkan jemaat untuk tidak menolak proses yang terjadi dalam kehidupan.
Mengutip Roma 8:18, ia menyampaikan bahwa penderitaan pada masa sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.
Hal serupa juga ditegaskan dalam 2 Korintus 4:17, bahwa penderitaan yang dialami saat ini justru menghasilkan kemuliaan kekal.
“Tanpa ketekunan tidak ada kemuliaan. Tidak ada jalan instan. Karena itu, mari kita ubah cara pandang kita dan menjadi perabot yang indah dalam rumah Tuhan,” tuturnya.
Setelah pemberitaan firman, ibadah dilanjutkan dengan persembahan jemaat. Suasana ibadah tetap berlangsung khidmat hingga memasuki sesi pengumuman gereja.
Sekretaris jemaat GBI Milos Saumlaki menyampaikan sejumlah informasi pelayanan sepekan, sekaligus menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali hadir.
“Gembala bersama staf pelayan mengucapkan selamat datang kepada Bapak dan Ibu yang baru pertama kali hadir. Pintu gereja kami selalu terbuka untuk kehadiran Bapak dan Ibu pada ibadah-ibadah selanjutnya,” ujarnya.
Ia juga menginformasikan berbagai kegiatan pelayanan gereja, mulai dari Menara Doa, ibadah Wanita GBI (WGBI), ibadah komsel, doa dan puasa, hingga ibadah pemuda (Youth) yang dijadwalkan berlangsung sepanjang pekan.
Di akhir ibadah, Sekretaris Jemaat mewakili seluruh jemaat menyampaikan apresiasi atas pelayanan firman yang disampaikan.
“Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gembala yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ucapnya.
Ibadah Minggu Raya kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Pdt. Heberth S. Wahilaitwan.
Setelah itu jemaat saling berjabat tangan sebelum meninggalkan gedung gereja dengan wajah penuh sukacita.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pesan yang disampaikan pagi itu menjadi pengingat bagi jemaat bahwa iman tidak selalu berjalan dalam kemudahan, melainkan dibentuk melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan.(rls:jk)










