Kusen “Bira-Bira” Disorot, LRKRI Siap Turun Ukur Ulang: Proyek SMP Muhammadiyah 36 Tanjung Tiram Terancam Dibongkar
( Sumatra Utara Batu Bara ) – Info86News,Com – Selasa.05/05/2026/-Gelombang sorotan terhadap proyek revitalisasi SMP Muhammadiyah 36 Tanjung Tiram kian tak terbendung. Setelah sebelumnya menuai kritik soal kualitas pekerjaan, kini dugaan penyimpangan mengerucut pada penggunaan material hingga potensi selisih anggaran yang mengarah pada kerugian negara.
Ketua Umum Lembaga Ruang Keadilan Rakyat Indonesia (LRKRI), Jasmi Harahap, menegaskan pihaknya tidak akan berhenti pada kritik. Ia memastikan akan turun langsung ke lapangan bersama tim konsultan independen bersertifikat SKA untuk membongkar fakta teknis proyek tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Jasmi pada Senin (4/5/2026) di Agro Kofee, Simpang Gambus. Dengan nada tegas, ia menyebut langkah ini sebagai upaya membuka dugaan penyimpangan yang selama ini tertutup rapat.
“Kami tidak mau lagi hanya dengar penjelasan. Kami turun, kami ukur, kami uji. Kalau ada selisih anggaran dan kerugian negara, akan kami bongkar secara terang,” tegasnya.
Sorotan utama kini tertuju pada penggunaan kusen pintu dan jendela yang diduga menggunakan kayu jenis “bira-bira”. Masalahnya, bukan sekadar jenis kayu, tetapi selisih harga yang dinilai mencolok dibandingkan spesifikasi dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
“Di RAB dicantumkan kayu keras. Tapi di lapangan diduga pakai kayu dengan kualitas dan harga jauh di bawah. Di sinilah letak persoalannya—ada potensi selisih anggaran,” ungkap Jasmi.
Menurutnya, jika dugaan ini terbukti, maka penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi bisa menjadi pintu masuk indikasi penyimpangan anggaran.
“Kalau kualitas diturunkan sementara anggaran tetap, itu bukan lagi soal teknis. Itu dugaan permainan yang harus dipertanggungjawabkan,” cetusnya tajam.
Sebagai langkah konkret, LRKRI akan melakukan pengukuran ulang volume pekerjaan untuk mengidentifikasi selisih anggaran. Selain itu, pengujian teknis juga akan dilakukan, termasuk hammer test untuk menguji kekuatan beton serta kajian sondir guna memastikan daya dukung struktur bangunan benar-benar laik fungsi.
“Semua akan kami uji—mulai dari material, volume pekerjaan, sampai kekuatan struktur. Ini bukan hanya soal bangunan berdiri, tapi apakah aman digunakan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa proyek pendidikan tidak boleh menjadi ruang kompromi kualitas. Menurutnya, jika mutu bangunan dikorbankan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya uang negara, tetapi keselamatan siswa.
“Ini sekolah, bukan proyek coba-coba. Kalau kualitas dikorbankan, yang dirugikan anak-anak kita,” ujarnya.
LRKRI turut menyoroti lemahnya pengawasan sebagai faktor yang membuka celah dugaan penyimpangan. Pelaksana proyek, konsultan pengawas, hingga dinas terkait dinilai tidak maksimal menjalankan fungsi kontrol.
“Kalau pengawasan berjalan, tidak mungkin pekerjaan seperti ini lolos. Ini patut diduga ada kelalaian, bahkan pembiaran,” tambahnya.
Jasmi memastikan hasil investigasi teknis nantinya akan dituangkan dalam laporan resmi, termasuk perhitungan indikasi kerugian negara jika ditemukan selisih antara anggaran dan realisasi di lapangan. Laporan tersebut akan diserahkan ke Aparat Penegak Hukum (APH) serta dibawa ke DPRD melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP).
“Kami akan kawal sampai tuntas. Kalau ada yang bermain, harus bertanggung jawab. Ini uang rakyat, bukan untuk dipermainkan,” tutupnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun pelaksana proyek belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai dugaan yang mencuat dalam proyek revitalisasi tersebut. (Informasi Yang Di Kutif Oleh Tim Penasehat Hukum Media Info86 News,Com) Bapak Ismail Sitompul ,SH,MH)
#By Narasi.( Ismail sitompul.SH.MH)
@Https//Info86News.com










