http://info86news.com | Saumlaki – Jumat (8/5/2026), terasa berbeda bagi umat Rukun St. Petrus. Di tengah suasana hening usai Misa Harian dan devosi Novena Tiga Salam Maria, Pastor Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Ponsianus Ongirwalu, melangkah dari rumah ke rumah menyapa umat yang selama ini merindukan kehadiran gembala mereka secara langsung.
Didampingi Ketua Rukun dan pengurus lingkungan, RD Ponsianus Ongirwalu mengunjungi 11 keluarga dalam kunjungan pastoral yang berlangsung sejak pukul 07.15 hingga 10.00 WIT.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda Gereja, melainkan ruang perjumpaan yang menghadirkan penguatan iman, mendengarkan pergumulan hidup umat, sekaligus meneguhkan rasa persaudaraan di tengah kehidupan sederhana masyarakat Olilit Barat.
Di setiap rumah yang dikunjungi, suasana hangat langsung terasa. Ada keluarga yang menyampaikan rasa syukur karena Gereja hadir lebih dekat melalui kunjungan langsung pastor.
Ada pula yang mengaku rindu mendapatkan sapaan rohani di tengah kesibukan dan pergulatan hidup sehari-hari.
Keluarga Fransiskus Saiman dan Yohanis Batceran merasakan kedamaian tersendiri ketika pastor hadir di rumah mereka pada pagi itu. Kehadiran Gereja yang “menjemput bola” dianggap memberi penguatan baru bagi keluarga.
Sementara keluarga Ren Batceran dan Alowisus Samponu mengungkapkan rasa syukur karena masih ada gembala yang bersedia duduk bersama umat di ruang tamu sederhana untuk mendengar cerita kehidupan mereka.
“Kehadiran Gereja seperti ini membuat kami merasa diperhatikan dan tidak berjalan sendiri,” ungkap salah satu anggota keluarga saat pertemuan berlangsung.
Kerinduan yang sama juga disampaikan keluarga Marselinus Samponu dan Eva Reyaan. Mereka berharap sapaan pastoral seperti itu terus hadir untuk menguatkan anggota keluarga yang sedang sakit maupun yang tengah berjuang dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Bagi keluarga Pice Reyaan dan Kuberi Reyaan, kunjungan pastoral tersebut menjadi penegasan bahwa keluarga adalah “Gereja Domestik” yang tetap berada dalam pelukan paroki dan tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Sedangkan keluarga Andi Fenanlampir dan Ricko Fenanlampir berharap kunjungan seperti itu terus dipertahankan karena mampu mempererat hubungan antarumat dan menumbuhkan semangat persaudaraan di lingkungan rukun.
Rangkaian kunjungan kemudian ditutup di rumah keluarga Yohanis Iraratu. Sukacita sederhana tampak mengalir dalam setiap percakapan. Kehadiran fisik seorang pastor di tengah umat menghadirkan rasa dekat yang sulit tergantikan.
Ketua Rukun St. Petrus mengatakan, wajah-wajah umat yang berbinar saat menerima kunjungan pastor menjadi bukti bahwa perhatian dan sapaan sederhana memiliki arti besar bagi kehidupan iman umat.
“Melihat wajah-wajah umat yang berbinar saat pintu rumah mereka diketuk oleh Pastor, saya menyadari bahwa kerinduan terbesar umat adalah disapa dan didengarkan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kehadiran pastor dan pengurus rukun pagi itu menunjukkan bahwa setiap umat merupakan bagian dari satu tubuh dalam Kristus. “Tidak ada yang terabaikan, dan setiap rumah adalah bait Allah tempat kasih bersemi,” katanya.
Dalam pesan pastoralnya, RD Ponsianus Ongirwalu mengajak umat menjaga kehidupan doa di tengah berbagai kesibukan keluarga dan pekerjaan.
“Sebagaimana kita sedang dalam masa Novena Tiga Salam Maria, jadikanlah doa sebagai napas keluarga. Jangan biarkan meja sembahyang di rumah berdebu,” pesan Pastor Ponsianus.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan antarwarga sebagai bentuk nyata kasih Kristiani. “Rukun St. Petrus harus menjadi teladan dalam semangat gotong royong. Saling menjaga dan peduli antar tetangga adalah bentuk nyata dari kasih Kristiani,” tuturnya.
Selain itu, ia mengajak setiap keluarga menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuhnya kasih, pengampunan, dan dukungan satu sama lain. “Jadikanlah rumah kalian tempat yang layak bagi Tuhan dengan saling mengampuni dan saling mendukung antara orang tua dan anak,” ucapnya.
Kunjungan pastoral pagi itu akhirnya tidak hanya menjadi agenda pelayanan Gereja, tetapi juga ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali rasa persaudaraan dan kedekatan iman di tengah umat kecil Rukun St. Petrus.
Di lorong-lorong sederhana Olilit Barat, sapaan, doa, dan kehadiran seorang gembala ternyata masih menjadi cara paling hangat untuk menjaga harapan tetap hidup.(jk)










