http://info86news.com | Lauran – Pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Rabu (13/5/2026), berjalan tenang.
Di tengah suasana yang masih teduh itu, suara refleksi iman dari Pius Heljanan terdengar mengajak umat untuk kembali menempatkan kebenaran sebagai dasar kehidupan.
Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran itu menyoroti situasi dunia saat ini yang dinilainya dipenuhi arus informasi tanpa batas, namun sering kehilangan arah kebenaran.
Dalam renungannya yang bertajuk “Serahkan Hidupmu Dituntun Roh Kebenaran”, Pastor Pius mengingatkan bahwa Yesus telah menjanjikan kehadiran Roh Kebenaran untuk menyertai umat manusia. “Roh Kebenaran akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran,” demikian kutipan yang disampaikan Pastor Pius merujuk Injil Yohanes 16:12-15.
Menurutnya, kehadiran Roh Kebenaran menjadi pegangan penting di tengah kehidupan modern yang sarat persaingan opini dan pencarian popularitas di ruang publik maupun media sosial.
Ia menggambarkan bagaimana saat ini banyak orang berlomba menjadi pusat perhatian. Ukuran benar dan baik, kata dia, kerap bergeser hanya demi mendapatkan pengakuan dan viralitas. “Setiap orang ingin cepat viral. Tidak penting apa yang dikatakan atau ditulis memiliki unsur kebenaran dan kebaikan, tetapi yang penting berdampak luas dan viral,” ungkap Pastor Pius.
Fenomena itu, lanjutnya, memunculkan kecenderungan memproduksi informasi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Bahkan, berita bohong atau hoaks tetap disebarkan demi sensasi dan popularitas sesaat.
Pastor Pius menilai kondisi tersebut menjadi tantangan moral sekaligus tantangan iman bagi umat beragama, khususnya dalam menjaga nilai kejujuran dan tanggung jawab sosial.
Di tengah derasnya arus informasi, ia mengajak umat untuk tetap berpegang pada ajaran Kristus serta setia mewartakan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. “Kita dipanggil untuk setia mewartakan kebenaran dan kebaikan yang bersumber pada Yesus. Roh Kebenaranlah yang menjadi pembimbing kita,” ujarnya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari nilai-nilai moral. Sebaliknya, ruang digital perlu diisi dengan sikap bijak, kejujuran, dan tanggung jawab agar tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.(jk)










