RD Ponsianus Ongirwalu: Hujan Tak Hentikan Pelayanan Gereja

banner 468x60

RD Ponsianus Ongirwalu Tutup Kunjungan Pastoral dengan Pesan Keteguhan Iman
http://info86news.com | Saumlaki – Guyuran hujan yang turun sejak pagi di Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Rabu (13/5/2026), tidak menghentikan langkah pelayanan umat yang dilakukan Ponsianus Ongirwalu bersama pengurus Rukun Santa Theresia.

Di tengah cuaca yang basah sejak pukul 08.00 hingga 11.15 WIT, rangkaian kunjungan pastoral kepada keluarga umat tetap berlangsung. Bagi Pastor Ponsianus, hujan justru menjadi simbol kesetiaan pelayanan dan kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti menjangkau umat.
“Meski alam menyapa dengan guyuran hujan, langkah kaki kami tidak terhenti. Hujan ini seolah menjadi simbol pembaptisan ulang atas semangat pelayanan kita,” ungkap Pastor Ponsianus dalam refleksi pastoralnya.

Enam Bulan Menyusuri Rumah Umat
Kunjungan itu sekaligus menjadi penutup perjalanan pastoral selama lebih dari enam bulan di bawah naungan Rukun Santa Theresia, Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat.

Dari rumah ke rumah, pastor bersama pengurus rukun hadir mendengarkan cerita, pergumulan, dan harapan umat. Sebanyak 13 keluarga terakhir yang dikunjungi disebut sebagai bagian penting dalam kehidupan Gereja setempat. “Ke-13 keluarga yang dikunjungi hari ini adalah batu-batu hidup yang menyusun bangunan Gereja di Olilit Barat,” katanya.

Keluarga-keluarga yang dikunjungi antara lain keluarga Andreas Futwembun, Markus Batmetan, Wempy Belay Lololuan, Januar Velverg, Elisabeth Amdassa, hingga Filibertus Futunanembun.

Gereja yang Hadir di Tengah Umat
Dalam refleksinya, Pastor Ponsianus menegaskan bahwa kehadiran Gereja bukan sekadar dalam perayaan ibadah di altar, melainkan juga melalui kedekatan nyata bersama umat di lingkungan keluarga.

Ia menyebut umat merasakan kehadiran pastor dan pengurus rukun sebagai bentuk perhatian dan penguatan iman di tengah kehidupan sehari-hari. “Melalui kunjungan ini, umat merasakan bahwa pastor bukan sekadar pemimpin ibadat, melainkan gembala yang berbau domba,” ujarnya.

Menurutnya, dialog sederhana di ruang tamu rumah warga mampu menghapus jarak antara hierarki Gereja dan umat awam.

Doa-doa yang dipanjatkan bersama keluarga juga dinilai menjadi kekuatan baru bagi umat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Rumah Tangga Diminta Menjadi Gereja Kecil
Dalam pesan pastoralnya, Pastor Ponsianus mengajak seluruh keluarga Katolik menjadikan rumah tangga sebagai Ecclesia Domestica atau Gereja Rumah Tangga.
Ia mengingatkan teladan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus tentang “jalan kecil”, yakni melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar. “Jangan menunggu peristiwa besar untuk berbuat baik; mulailah dari kerukunan di dalam rumah, doa bersama sebelum makan, dan ketulusan menerima sesama,” pesannya.

Kepada para pengurus rukun dan Badan Pengurus Rukun (Baperus), ia menyampaikan apresiasi atas dedikasi pelayanan selama enam bulan terakhir.
“Pelayanan kasih tidak boleh berhenti. Tetaplah menjadi telinga yang mendengar dan mata yang melihat kesulitan umat,” tegasnya.

Menjaga Semangat Persaudaraan
Menutup refleksinya, Pastor Ponsianus mengajak seluruh umat menjaga semangat persaudaraan Duan Lolat dalam terang iman Katolik.

Ia berharap kebersamaan yang telah dibangun selama kunjungan pastoral tidak berhenti sebagai agenda rutin, tetapi terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari umat. “Kunjungan ini hanyalah awal. Persaudaraan yang telah dipupuk selama enam bulan harus terus bertumbuh,” katanya.

Melalui doa penutup, Pastor Ponsianus berharap berkat Tuhan yang turun bersama hujan dapat membasahi hati setiap keluarga agar tetap hidup dalam iman, pengharapan, dan kasih.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *