http://info86news.com | Saumlaki – Di tengah derasnya arus informasi, meningkatnya ujaran kebencian, fitnah, hingga provokasi yang kerap merusak relasi antarmanusia, Pastor Pius Heljanan mengajak umat untuk kembali memaknai doa sebagai jalan pemersatu antara manusia dengan Tuhan dan sesama.
Pesan reflektif itu disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC dalam renungan Minggu pagi, 17 Mei 2026, di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dalam refleksinya, Pastor Pius menegaskan bahwa doa bukan sekadar rutinitas religius atau permohonan pribadi kepada Tuhan, melainkan ruang komunikasi yang lahir dari hati manusia menuju hati Tuhan dalam iman yang tulus.
Menurutnya, melalui doa, manusia tidak hanya membangun hubungan intim dengan Sang Pencipta, tetapi juga memperkuat relasi sosial yang damai dan penuh kasih dengan sesama. “Mereka adalah milik-Mu, dan segala milik-Ku adalah milik-Mu,” kutip Pastor Pius dari Injil Yohanes 17:1-11a saat mengawali refleksinya.
Ia menjelaskan bahwa doa sejati semestinya menghadirkan bahasa kasih, penghargaan, harapan, dan penghormatan kepada Tuhan maupun sesama manusia.
Sebaliknya, doa tidak boleh dicemari oleh kebencian, penghakiman, fitnah, hoaks, ataupun provokasi yang justru menciptakan luka sosial di tengah masyarakat. “Bahasa doa adalah kasih, kata-kata yang pantas, penuh harapan dan penghargaan pada Tuhan, bukan bahasa penghakiman, fitnah, kebencian, hoaks dan provokasi,” ujar Pastor Pius Heljanan MSC.
Dalam refleksi yang disampaikan dengan nada teduh namun kritis itu, Pastor Pius juga mengingatkan bahwa kualitas komunikasi manusia dewasa ini semakin diuji, terutama di ruang publik dan media sosial, ketika banyak orang lebih mudah menyerang daripada merangkul.
Karena itu, menurutnya, doa harus menjadi kekuatan moral yang menuntun manusia untuk menghadirkan wajah yang ramah, damai, dan membawa kebenaran dalam kehidupan bersama.
Ia turut mengutip pesan Pope Francis yang menegaskan bahwa komunikasi sejati seharusnya mendekatkan, menyembuhkan, dan mempererat hubungan antarmanusia, bukan menciptakan jurang pemisah. “Komunikasi yang sejati harus mendekatkan, menyembuhkan, mempererat dan tidak menciptakan jurang pemisah,” demikian pesan Paus Fransiskus yang kembali ditegaskan Pastor Pius kepada umat.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa doa tidak berhenti pada kata-kata liturgis, melainkan harus tercermin dalam sikap hidup sehari-hari. Di tengah masyarakat yang rentan terpecah oleh perbedaan pandangan, Pastor Pius mengajak umat untuk menjadikan doa sebagai jalan persaudaraan, rekonsiliasi, dan pemersatu kehidupan sosial.(jk)










