Prof Sutan Nasomal: Amerika panik ke China lantaran Iran menangi perang

banner 468x60

JAKARTA, info86News.com Pergerakan Presiden Amerika Serikat berkunjung ke China dinilai sebagai bentuk kepanikan negara adidaya yang tengah berada di titik tertekan, pasca kenyataan mengakui kekuatan Iran yang terbukti unggul dalam konflik tahun 2026 ini. Hal tersebut disampaikan Prof Dr Sutan Nasomal SH MH, Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional sekaligus Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia saat dihubungi awak media di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Menurut Sutan Nasomal, kedatangan pimpinan Amerika ke Tiongkok bukan sekadar urusan ekonomi semata. “Kemarahan Amerika terlihat nyata, namun di sisi lain mereka berusaha merayu China untuk membuka lembaran baru hubungan dagang, menurunkan tarif pajak, serta menciptakan kemudahan akses ekonomi. Tujuannya satu: meminta China membujuk sahabatnya, Iran, agar melunakkan sikap dan kembali membuka Selat Hormus agar aman dilalui kapal-kapal dunia,” jelasnya.

Lebih jauh ia menuturkan, prestise Amerika Serikat sebagai negara adidaya luntur seiring kegagalannya melumpuhkan Iran selama berbulan-bulan konflik, bersekutu dengan Israel. “Kekuatan militer Amerika kini hanya tinggal kisah dongeng bagi Iran. Mereka merasa sangat butuh menggandeng China demi membangun hubungan bilateral yang saling menguntungkan, meski situasi ini terlihat sangat ironis. Namun begitulah fatamorgana kehidupan dunia,” ujarnya.

Skenario gelap hingga akhir 2026

Melihat dinamika ke depan hingga akhir tahun 2026, Sutan Nasomal memprediksi adanya gerakan tersembunyi di balik kerja sama strategis Iran, China, Rusia, dan Korea Utara. Koalisi negara-negara ini dinilai tengah bersiap melumpuhkan dominasi militer Amerika dan Israel hingga tak lagi berdaya berperang.

“Ancaman nyata mengarah pada kemungkinan perang nuklir, baik skala menengah maupun besar. Ini jalan yang diprediksi akan diambil untuk mempercepat akhir konflik, di mana Amerika dan Israel akan menjerit dalam kehancuran dan kekalahan total,” ungkapnya.

Data sementara menunjukkan dampak mengerikan konflik ini. Ribuan nyawa melayang, baik dari pihak Iran, Lebanon, Yaman, maupun dari kubu Amerika dan Israel. Secara materi, biaya perang hingga Mei 2026 diperkirakan telah menyedot dana hingga ribuan triliun rupiah, belum termasuk kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan ekonomi.

Negara-negara di Timur Tengah disebut telah salah membaca kekuatan militer Iran yang ternyata tetap tangguh dan menjadi ancaman serius. Hal ini memicu ketakutan besar di kalangan pemimpin negara dan pengusaha kaya di kawasan tersebut.

“Ambisi Amerika menguasai sumber daya alam minyak dan gas di Timur Tengah kemungkinan besar akan memicu perang baru. Mereka harus berhadapan dengan China di Pasifik, sementara Rusia berpotensi memperluas konflik ke Ukraina dan Eropa. Menurut saya, ini adalah keputusan terburuk yang diambil Amerika dan Israel,” tegas Sutan Nasomal.

Prahara ekonomi dan perubahan tatanan dunia

Dampak konflik berpotensi meluas hingga ke Asia dalam bentuk krisis ekonomi parah. Banyak negara dikhawatirkan tidak sanggup lagi mempertahankan kedaulatannya akibat lonjakan harga minyak dan energi yang melambung tinggi. Kenaikan harga kebutuhan pokok berisiko memicu gelombang protes dan revolusi sosial, akibat ketidakpekaan para pemimpin negara.

“Prahara akan terjadi di mana-mana dengan sangat cepat. Dunia akan segera melihat pergeseran besar: lahirnya tatanan damai baru, munculnya negara dengan sistem pemerintahan baru, dan ditinggalkannya aturan lama. Nilai-nilai dan kearifan masa lalu akan kembali digunakan untuk menyeimbangkan kehidupan sosial, hukum, dan politik dunia, demi membangun kekuatan baru yang lebih kokoh,” pungkas Prof Sutan Nasomal.

Narasumber:
Prof Dr Sutan Nasomal SH,MH
Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional
Presiden Partai Koalisi Rakyat Indonesia
Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia
Kontak: 087719021960

( Redaksi )

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *