BPI Dorong SDM Tanimbar Terhubung Langsung dengan Dunia Industri

banner 468x60

Bukan Simsalabim”, Joe Noya Bicara Perjuangan Menyiapkan SDM Tanimbar
http://info86news.com  | Saumlaki – Direktur PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), Joe Noya, menegaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar harus dibangun dengan sistem yang profesional, terintegrasi, dan berkelanjutan agar tidak mengulangi kegagalan program-program sebelumnya.

Hal itu disampaikan Joe Noya saat wawancara media di Kantor BPI Cabang KKT, Jalan Ir. Soekarno Sifnana RT 11 RW 3, depan Kodim Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Jumat, 22 Mei 2026.

Dalam keterangannya, Joe Noya menekankan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menghakimi kerja sama pemerintah daerah sebelumnya.

Menurut dia, BPI tetap menghormati seluruh lembaga maupun pihak yang pernah terlibat dalam pengelolaan tenaga kerja di Tanimbar. “Saya sebagai manajemen BPI tidak punya kewenangan untuk menghakimi kerja sama Pemda sebelumnya. Prinsipnya, BPI menghormati pemerintah daerah maupun lembaga-lembaga yang sudah bekerja sebelumnya,” ujar Joe Noya.

Meski demikian, ia memahami kekhawatiran masyarakat yang berharap program pengembangan tenaga kerja kali ini tidak kembali mengalami kegagalan.

Evaluasi Pendidikan Anak Tanimbar di Cepu
Joe Noya menyoroti pengalaman sejumlah anak Tanimbar yang menjalani pendidikan migas di Cepu hingga enam angkatan, namun sebagian di antaranya belum memperoleh kepastian kerja maupun sertifikat pendidikan.

Ia mengungkapkan, salah satu peserta yang melamar ke BPI bahkan belum menerima sertifikat karena masih terdapat kewajiban administrasi yang belum diselesaikan. “Ini menjadi beban bersama untuk membantu anak-anak Tanimbar dan membantu Pemda memecahkan persoalan yang ada,” katanya.

Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar jumlah lulusan, melainkan bagaimana sistem pendidikan dan rekrutmen disiapkan sejak awal agar benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri.

Joe menjelaskan, proses seleksi tenaga kerja harus dilakukan secara profesional melalui lembaga rekrutmen yang memahami sektor migas, bukan sekadar berdasarkan mekanisme lokal semata. “Tidak boleh dipilih begitu saja. Sistem rekrutmen harus diserahkan kepada lembaga profesional di bidang migas supaya menghasilkan anak-anak dengan kompetensi tinggi, baik dari sisi skill, moral, karakter maupun kesehatan,” tegasnya.

SDM Harus Terintegrasi dengan Industri
BPI, lanjut Joe, merancang pola pengembangan SDM yang langsung terkoneksi dengan pemerintah daerah dan industri sejak awal pendidikan.

Menurut dia, peserta pendidikan migas harus mendapatkan pendampingan profesional hingga memasuki dunia kerja.
“Sejak masuk pendidikan, mereka harus sudah terintegrasi dengan industri. Setelah lulus, mereka langsung masuk sebagai pekerja atau magang,” ujarnya.

Ia mencontohkan, peserta yang mengambil bidang produksi atau kelistrikan harus didampingi tenaga profesional senior hingga benar-benar siap bekerja di industri migas.

Pendampingan itu, kata dia, dilakukan mulai dari masa pendidikan, magang, hingga saat proyek investasi mulai beroperasi “Supaya mereka tetap on the track dan tidak dilepas begitu saja,” katanya.

Mitigasi Risiko Kegagalan Tenaga Kerja
Joe Noya juga menyinggung program pelatihan welder di Tanimbar. Menurutnya, pendidikan tenaga las tidak cukup hanya memberikan sertifikasi, tetapi harus disesuaikan dengan standar kebutuhan industri migas. “Kita harus tahu welder ini sampai klasifikasi apa untuk standar migas,” ujarnya.

Ia menambahkan, peserta pelatihan harus didampingi instruktur berpengalaman agar proses sertifikasi berjalan benar dan kompetensi yang dimiliki sesuai kebutuhan lapangan. Selain itu, tenaga kerja juga harus langsung dihubungkan dengan industri agar memperoleh pengalaman praktik sebelum proyek besar seperti Masela memasuki tahap konstruksi penuh.

Ribuan Tenaga Kerja Mulai Terdata
Joe mengungkapkan antusiasme masyarakat Tanimbar terhadap program pengembangan tenaga kerja cukup tinggi. Hingga saat ini, kata dia, jumlah tenaga kerja yang telah terdata mendekati 1.000 orang. “Saya berterima kasih kepada anak-anak Tanimbar yang begitu antusias karena mereka ingin sekali bekerja,” katanya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 500 orang merupakan pemuda asli Tanimbar, sementara sisanya merupakan tenaga campuran dari berbagai latar belakang keterampilan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah mempercayakan anak-anak mereka untuk mengikuti proses pendataan di BPI.

Libatkan Pemerintah, Tokoh Agama dan Masyarakat
Joe berharap program pengembangan SDM ini mendapat dukungan luas dari pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi sosial.

Menurut dia, keberhasilan program tersebut tidak bisa dicapai hanya oleh satu pihak. “BPI bukan Superman dan bukan pemegang tongkat Musa untuk simsalabim semua terjadi. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan pengorbanan dan komitmen bersama,” ujarnya.

Ia juga membuka ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat di desa-desa untuk membantu pendataan calon tenaga kerja.
“Kelompok arisan ibu-ibu pun silakan memberikan data anak-anak mereka dan kirim ke BPI,” katanya.

Rekrutmen Dibuka Hingga Desa-Desa
Dalam strategi jangka panjang, BPI tidak hanya fokus pada kebutuhan tenaga kerja proyek investasi di Masela, tetapi juga menyiapkan SDM Tanimbar untuk pasar kerja nasional. Joe mengatakan, proses rekrutmen akan terus dibuka selama tiga tahun sesuai kontrak kerja sama dengan pemerintah daerah.

Saat ini pendataan masih difokuskan di Kota Saumlaki, namun setelah Idul Adha akan diperluas hingga desa-desa. “BPI tidak akan menutup pintu karena kontrak dengan Pemda untuk menyiapkan SDM itu tiga tahun,” ujarnya.

Untuk desa yang sulit dijangkau, BPI akan bekerja sama dengan pemerintah daerah melalui camat dan kepala desa agar data tenaga kerja tetap bisa dikumpulkan.

Peluang Magang hingga Jepang
Joe Noya juga mengungkapkan bahwa BPI tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan nasional yang memiliki fasilitas pelatihan dan magang ke luar negeri, termasuk Jepang.

Skema tersebut masih dipelajari untuk memastikan kesesuaiannya dengan kemampuan dan kebutuhan anak-anak Tanimbar. “Kalau skema ini cocok dan ada anak-anak Tanimbar yang memenuhi spesifikasi, maka BPI akan menjalankan program ini sebagai bagian dari strategi memecahkan pengangguran terbuka,” katanya.

Pesan untuk Generasi Muda Tanimbar
Di akhir wawancara, Joe Noya mengajak generasi muda Tanimbar usia produktif agar tidak ragu mempersiapkan diri menghadapi peluang kerja yang akan datang.

Ia menekankan pentingnya disiplin belajar, menguasai keterampilan, dan memperoleh sertifikasi profesional. “Masa depan kalian ada di tangan kalian masing-masing. Ikuti proses ini dengan sungguh-sungguh, disiplin belajar, menguasai skill dan tersertifikasi agar bisa masuk ke dunia kerja,” ujarnya.

Joe optimistis dalam tiga hingga empat tahun ke depan hasil program pengembangan SDM tersebut mulai terlihat nyata. “Saya yakin anak-anak Tanimbar ke depan akan mulai terlihat masuk dalam tenaga kerja profesional,” tutupnya.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *