RD. Domincs Baldawins Masriat: Kebesaran Tidak Lahir dari Kekuasaan

banner 468x60

http://info86news.com | Manila – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan akademik di Central Seminary UST Manila, Filipina, Rabu, 27 Mei 2026, sebuah refleksi rohani hadir dengan nada tenang namun tajam. Melalui renungan bertajuk Sejenak Sabda, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, mengajak umat melihat kembali makna sejati tentang kekuasaan, pengorbanan dan pelayanan.

Refleksi yang diangkat dari Injil Markus 10:32-45 itu tidak hanya berbicara tentang kehidupan iman, tetapi juga menyentuh realitas sosial manusia modern yang sering terjebak dalam ambisi, jabatan dan pencarian pengakuan. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,” demikian kutipan Injil yang menjadi titik tolak permenungan RD. Domincs Baldawins Masriat.

Menurutnya, dunia hari ini cenderung mengukur kebesaran dari kuasa, fasilitas dan kehormatan. Namun Yesus justru memperlihatkan jalan berbeda: kebesaran sejati lahir dari kerelaan melayani. “Jika dunia menganggap orang besar adalah mereka yang dilayani, memiliki kuasa dan bisa memerintah orang lain, Yesus menegaskan hal sebaliknya,” tulisnya.

Pesan itu terasa seperti kritik moral terhadap realitas sosial yang kerap menempatkan kekuasaan sebagai alat dominasi, bukan pengabdian.

Dalam refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat juga menyoroti keberanian Yesus menghadapi penderitaan menuju Yerusalem.

Ia menggambarkan bagaimana Yesus berjalan dengan kesadaran penuh bahwa jalan yang ditempuh-Nya bukan jalan kemudahan, melainkan jalan salib. “Yesus menunjukkan integritas dan keteguhan hati. Menghidupi kebenaran dan nilai moral sering kali menuntut pengorbanan serta kenyamanan pribadi,” ungkapnya.

Bagi RD. Domincs, pesan Injil itu menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan nilai-nilai kebenaran sering kali tidak populer dan menuntut keberanian melawan arus. Di tengah budaya instan dan pragmatisme yang berkembang, refleksi tersebut seolah menjadi ajakan untuk kembali memaknai pengorbanan sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia.

Pada bagian lain, RD. Domincs Baldawins Masriat menyinggung sikap Yakobus dan Yohanes yang meminta posisi terbaik di sisi Yesus, tepat setelah Yesus berbicara tentang penderitaan-Nya.

Menurutnya, kisah itu merupakan gambaran nyata tentang ambisi manusia yang sering kali menutup mata terhadap penderitaan sesama. “Sering kali manusia terjebak dalam ambisi buta demi mengejar status, popularitas, atau keuntungan pribadi, hingga mengabaikan rasa empati dan penderitaan orang lain,” tulisnya.

Refleksi tersebut menjadi kritik halus terhadap kehidupan sosial yang dipenuhi persaingan tanpa empati, termasuk dalam dunia politik, birokrasi, bahkan kehidupan komunitas sehari-hari.

RD. Domincs Baldawins Masriat juga menggarisbawahi pesan Yesus tentang model kepemimpinan. Dalam Injil, Yesus mengkritik para penguasa yang memerintah dengan “tangan besi”. Bagi RD. Domincs, pesan itu tetap relevan hingga hari ini.
“Kekuasaan tidak boleh digunakan sebagai alat manipulasi, kontrol atau penindasan, melainkan sebagai sarana untuk mengupayakan kesejahteraan dan kebaikan bersama,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang memiliki otoritas, baik di keluarga, tempat kerja maupun lingkungan sosial, dipanggil untuk menjadikan kepemimpinan sebagai ruang pelayanan, bukan sarana mempertontonkan kuasa.

Pada akhir refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat menempatkan pengorbanan Yesus sebagai puncak teladan kasih. “Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang,” tulisnya.

Menurutnya, teladan itu mengajak manusia untuk memiliki keberanian membantu sesama, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan hidup.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, pesan dari Manila itu hadir seperti suara sunyi yang mengingatkan bahwa manusia tidak dipanggil untuk hidup bagi dirinya sendiri. “Ya Allah, berkatilah kami agar kami mampu berkorban demi kebahagiaan bersama,” demikian doa penutup yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat.

Sebuah doa sederhana, namun menyimpan harapan besar agar manusia tetap memiliki hati untuk melayani, bukan sekadar menguasai.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *