Nusron: Iduladha Momentum Menyembelih Ego dan Keserakahan

banner 468x60

http://info86news.com | Jakarta – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, , mengajak umat Islam menjadikan momentum Iduladha sebagai ruang refleksi untuk menumbuhkan ketakwaan, kepedulian sosial, serta mengendalikan ego dan keserakahan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Menteri Nusron saat menjadi khatib dalam Salat Iduladha 1447 Hijriah di , Rabu (27/5/2026).

Dalam khutbahnya, Menteri Nusron menegaskan bahwa makna Iduladha tidak hanya terbatas pada ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan juga menjadi simbol pengorbanan batin dan pengendalian diri sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. “Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menyembelih ego, hawa nafsu, keserakahan, dan rasa tidak peduli kita kepada sesama, terutama sesama umat manusia,” ujar Nusron Wahid.

Menurutnya, ibadah kurban pada hakikatnya merupakan proses menundukkan diri, membersihkan hati, dan melatih keikhlasan agar manusia tidak terjebak pada kepentingan pribadi semata.
“Semakin tinggi ketakwaan seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar kepeduliannya kepada manusia lainnya,” katanya.

Di hadapan ratusan jamaah, Menteri Nusron juga mengingatkan bahwa yang sampai kepada Allah SWT bukanlah bentuk fisik kurban, melainkan ketulusan niat dan ketakwaan sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hajj ayat 37.

Ia menilai, tantangan masyarakat modern saat ini bukan hanya persoalan kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan hati dan empati sosial. “Banyak orang berkecukupan tetapi kehilangan empati, berilmu tetapi kasar, atau rajin beribadah namun sulit menghargai orang lain,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Nusron turut mengutip pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri sebagai bagian dari kesempurnaan iman.

Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam menjadikan Iduladha sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia. “Kalau ada yang renggang, mari kita damaikan. Kalau ada yang terluka, mari kita maafkan. Karena ketakwaan sejati bukan hanya di sajadah, tetapi juga dalam kepedulian kepada sesama,” pungkasnya.

Pesan tersebut disampaikan di tengah gema takbir Iduladha yang menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara ibadah spiritual dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat.(rls:tomy/jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *