http://info86news.com | Saumlaki – Tidak semua pelayanan dilakukan dari atas mimbar. Ada yang memilih jalan sunyi, bekerja dalam kesederhanaan, tanpa sorotan, namun dampaknya dirasakan oleh seluruh umat yang datang beribadah.
Suasana penuh haru mewarnai Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Selasa (23/6/2026).
Usai perayaan Ekaristi Kudus dan Novena Santo Petrus dan Paulus Rasul hari kedua, Pastor Paroki RD Ponsianus Ongirwalu secara khusus menyampaikan penghargaan kepada pasangan suami-istri Melkisedek Londar dan Yohana Kadung.
Pasangan tersebut selama kurang lebih 12 tahun mengabdikan diri menjaga kebersihan dan kerapian gereja, tanpa mengenal lelah dan tanpa pernah menuntut penghargaan.
Dalam pengantar yang disampaikan di hadapan umat, RD Ponsianus Ongirwalu mengungkapkan bahwa penghargaan itu lahir dari kerinduan bersama Dewan Pastoral Paroki, para ketua rukun, dan seluruh umat untuk menghormati ketulusan pelayanan yang selama ini dilakukan dalam diam.
“Kita ingin berhenti sejenak, mengarahkan pandangan dan hati kita kepada sepasang suami istri yang selama kurang lebih 12 tahun tanpa lelah, tanpa mengeluh, telah mempersembahkan hidup, tenaga, dan waktu mereka demi keindahan Rumah Tuhan,” ujar RD Ponsianus Ongirwalu.
Kesetiaan yang Tidak Mengenal Musim
Menurut Pastor Ponsianus, setiap pagi pasangan tersebut selalu hadir di lingkungan gereja untuk memastikan rumah ibadah dalam keadaan bersih dan layak digunakan umat.
Baik saat matahari bersinar terik maupun ketika hujan mengguyur, langkah mereka tetap setia menuju gereja.
Bagi sebagian orang, membersihkan gereja mungkin dipandang sebagai pekerjaan biasa. Namun bagi Gereja, pelayanan itu merupakan kesaksian iman yang hidup.
“Setiap debu yang disapu, setiap sampah yang dipungut, dan setiap sudut altar yang dibersihkan dengan cinta adalah untaian doa dan wujud nyata dari ketaatan iman,” kata Pastor Ponsianus.
Ia menambahkan, kenyamanan umat saat berdoa dan beribadah tidak terlepas dari tangan-tangan sederhana yang bekerja sejak fajar menyingsing.
Ketulusan yang Menginspirasi
Dalam kesempatan tersebut, pihak paroki menyerahkan tanda kasih sebagai ungkapan syukur dan penghargaan.
Meski nilainya sederhana, Pastor Ponsianus menegaskan bahwa makna penghargaan itu jauh lebih besar daripada nilai materi yang diberikan.
“Nilainya tentu tidak banyak, tidak mampu membayar lunas keringat Bapak dan Ibu, namun cukuplah kiranya untuk sekadar membeli kopi dan gula sebagai penghangat pagi peneman pelayanan,” tuturnya.
Menurutnya, kebahagiaan sejati dari penghargaan tersebut bukan terletak pada materi, melainkan pada pengakuan bahwa pelayanan yang dilakukan selama ini dilihat, dihargai, dan dicintai oleh komunitas umat beriman.
Menjadi Khotbah Tanpa Kata
Dalam refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu menyebut perjalanan pelayanan selama 12 tahun itu sebagai “khotbah hidup tanpa kata-kata.”
Kesetiaan yang ditunjukkan pasangan Melkisedek Londar dan Yohana Kadung dinilai menjadi teladan nyata bagi seluruh umat tentang arti melayani Tuhan dengan hati yang tulus.
“Teladan kesetiaan Bapak dan Ibu selama 12 tahun ini telah menjadi cermin rohani bagi kami semua, baik pastor, pengurus maupun umat, tentang apa artinya melayani tanpa pamrih,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh umat untuk belajar dari kesederhanaan pelayanan tersebut, karena pelayanan yang besar tidak selalu dilakukan di depan banyak orang, melainkan sering lahir dari ketekunan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.
Doa dan Harapan Gereja
Di akhir pesannya, Pastor Ponsianus menyampaikan doa agar pasangan tersebut senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan damai sejahtera dalam keluarga.
Ia juga menegaskan bahwa setiap doa yang dipanjatkan umat di dalam gereja yang bersih dan nyaman itu turut mengalir sebagai berkat bagi keluarga yang telah setia merawat rumah Tuhan.
“Ketahuilah bahwa setiap kali kami berlutut dan berdoa di dalam gereja yang bersih ini, ada bagian dari doa-doa kami yang melambung untuk keselamatan, berkat, dan rezeki bagi keluarga Bapak dan Ibu,” kata RD Ponsianus Ongirwalu.
Bagi umat Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa di balik megahnya sebuah gereja, terdapat tangan-tangan sederhana yang bekerja dalam sunyi, menjaga kesucian rumah Tuhan dengan ketulusan yang tak pernah meminta balasan.
“Pelayanan yang tulus mungkin tidak selalu terlihat manusia, tetapi tidak pernah luput dari pandangan Tuhan.”
Pewarta: Joko / Redaksi
Editor: Redaksi Nasional










