PASAMAN info86news.com Upaya mendorong modernisasi sektor pertanian terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, dan alat mesin pertanian (alsintan). Penerapan teknologi secara tepat diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani dan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani.
Hal tersebut menjadi salah satu materi dalam rangkaian sosialisasi dan pembahasan pengembangan pertanian yang dilaksanakan pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Sisul Candra bertindak sebagai narasumber sekaligus pemimpin rapat dengan menyampaikan materi mengenai sosialisasi teknologi PM-AAS (Precision Modern Agriculture System).
Sisul Candra menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan sistem budidaya padi modern yang memanfaatkan teknologi, data, mekanisasi, dan pengelolaan secara presisi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta keberlanjutan usaha pertanian.
Menurutnya, terdapat sejumlah aspek utama dalam penerapan PM-AAS, di antaranya populasi tinggi, tanam benih langsung (Tabela), mekanisasi lengkap, pengelolaan air secara cerdas (AWD), pemupukan spesifik lokasi, serta pengelolaan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu melalui PHT.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan lahan sebelum penerapan teknologi tersebut. Pengairan teknis, pengolahan tanah, penggunaan pupuk organik, dolomit sesuai pH tanah, pengendalian gulma, serta pengamatan kondisi tanah harus dilakukan secara tepat agar hasil budidaya dapat optimal.
Dalam materi pemupukan PM-AAS, turut dibahas penggunaan Urea sekitar 300 kg/ha, NPK sekitar 400 kg/ha, dan silika sekitar 3 liter, dengan penerapannya tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lahan.
Elbi Hendri Soroti Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan
Sementara itu, Elbi Hendri menjadi narasumber kedua sekaligus pemimpin rapat pada materi “Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan dalam Mendukung Produktivitas dan Efisiensi Usaha Tani.”
Elbi Hendri menyampaikan bahwa alat dan mesin pertanian memiliki peranan penting dalam mendukung transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern. Pemanfaatan alsintan secara optimal dapat membantu petani meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya dalam proses produksi.
Dalam pembahasan tersebut, ia juga menyoroti peranan alat dan mesin pertanian serta peluang pengembangan mekanisasi pertanian. Menurutnya, pemanfaatan alsintan harus dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kondisi wilayah agar keberadaannya benar-benar memberikan manfaat bagi petani.
Elbi Hendri menjelaskan bahwa prinsip kerja optimalisasi alsintan antara lain dengan memenuhi kebutuhan alsintan pada suatu wilayah, melakukan mobilisasi alsintan secara terjadwal sesuai kebutuhan dan jadwal tanam, serta memastikan alat digunakan secara efektif.
Adapun kebijakan pengembangan alsintan mencakup beberapa hal, yakni penyediaan alat dan mesin pertanian, optimalisasi pemanfaatan alsintan, pengembangan UPJA, serta pengawasan terhadap peredaran alsintan.
Untuk tanaman padi, jenis alsintan yang menjadi perhatian meliputi alsintan prapanen, alsintan panen, dan alsintan pascapanen.
Menurut Elbi Hendri, optimalisasi alsintan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan alat, tetapi juga bagaimana alat tersebut dikelola dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan petani. Dengan pengelolaan yang tepat, mekanisasi pertanian diharapkan mampu mempercepat proses budidaya, mengurangi beban kerja, serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Narasumber Ketiga: Teknis Budidaya dan Pengelolaan Lahan Mendukung PM-AAS
Rapat juga mencatat sejumlah poin penting terkait persiapan lahan dan teknis budidaya yang mendukung penerapan PM-AAS di lapangan. Catatan tersebut mencakup pengolahan lahan, pengaturan populasi tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit terpadu.
Dalam notulen rapat tersebut, disebutkan bahwa persiapan lahan menjadi kunci keberhasilan sebelum teknologi PM-AAS diterapkan. Lahan perlu dipastikan kondisinya siap untuk mendukung sistem tanam langsung, pengelolaan air cerdas, dan mekanisasi secara menyeluruh.
Selain itu, pembahasan juga mencakup upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu melalui PHT, serta pengaturan kebutuhan pupuk yang disesuaikan dengan kondisi tanah setempat. Dengan demikian, penerapan PM-AAS tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan lahan, ketepatan pengelolaan, dan partisipasi petani di lapangan.
Kedua materi tersebut memperlihatkan bahwa modernisasi pertanian membutuhkan sinergi antara penerapan teknologi budidaya presisi dan optimalisasi mekanisasi pertanian. PM-AAS dan pemanfaatan alsintan secara tepat diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong usaha tani yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
( Abdi Novirta )










