http://info86news.com | Minggu pagi, 16 November 2025, Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (MILOS) Saumlaki di Jalan Ir. Soekarno, tepat di belakang Kantor Pengadilan Saumlaki, tampak hidup sejak matahari belum tinggi.
Jemaat datang satu per satu, sebagian membawa Alkitab di tangan, sebagian lagi datang bersama keluarga. Suasana hangat terasa mengisi ruang ibadah di Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar itu.
Ibadah umum dimulai oleh Pdt. Haris Boritnaban, S.Th. Sementara itu, aransemen musik dan sentuhan keyboard dipandu oleh Ibu Gembala Sidang, Annisa Lystia Andani/Wahilaitwan, yang membawa jemaat masuk dalam lagu pembuka “Ku menyembah dan kudus hadirat-Mu…”.
Penyembahan yang Mengalir Lembut
Pujian dilanjutkan memasuki suasana penyembahan. Dengan lembut, kalimat doa terdengar di antara suara jemaat:
“Hadirat-Mu Tuhan kami rasakan… kami akan pulang dengan membawa berkat surgawi.”
Lagu “Sebab Tuhan Mahabesar…” mengalir menyertai penyembahan, menguatkan jemaat lewat lirik “Pertolongan-Mu di tempat maha tinggi, aku berserah Yesusku.”
Doa Pembukaan dari Gembala Sidang
Sebelum firman Tuhan disampaikan, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan maju ke mimbar. Suaranya tegas tetapi lembut ketika mengajak jemaat berdoa:
“Bapa yang baik, kami mohon tutup bungkus dan urapi kami dengan kuasa-Mu. Segala halangan dalam ibadah ini kami hancurkan dalam nama Yesus.”
Doa itu disambut “amin” dari jemaat yang memenuhi ruangan.
Firman Tuhan: Tentang Hidup yang Ditimbang
Mengawali khotbahnya, Pdt. Heberth memandang jemaat sambil membuka Alkitab. Ia berkata:
“Saya akan berbicara bagaimana kita lihat teka-teki dalam pribadi seseorang, bagaimana Allah menghitung, menimbang, dan memutuskan apa yang dibuatnya di dunia.”
Ia mengajak jemaat menelusuri kisah dramatis dari Daniel 5:1–30, tentang Raja Belsyazar, perjamuan mewah, dan tulisan misterius di dinding: Mene, Mene, Tekel, Ufarsin.
Dengan gaya bertutur yang perlahan namun kuat, ia menjelaskan: Mené: masa pemerintahan dihitung Allah dan diakhiri, Tekél: seseorang ditimbang dan didapati terlalu ringan dan Peres: kerajaan dipecah dan diberikan kepada bangsa lain.
Ia kemudian menatap jemaat sambil menegaskan: “Saudara-saudara yang melayani di gereja adalah perkakas yang indah di hadapan Tuhan.”
Lanjutnya mengatakan “Ada mata yang besar melihat dan memutuskan tanggung jawab yang telah diberikan kepada kita sebagai pelayan.”
Khotbah itu kemudian memasuki bagian refleksi tentang kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan soal relasi keluarga: “Ketika Bapa Ibu hidup dalam Tuhan, rasanya tidak bisa lagi mau aniaya istri atau suami.”
Dan berbicara blak-blakan tentang realita moral di luar sana: “Banyak orang tidak peduli lagi kepada Allah. Yang ada di mata, hati, dan pikiran cuma uang, sehingga terjerumus dalam perzinahan, percabulan dan lainnya. Bersyukurlah dalam segala hal. Jangan paksakan kehendak Tuhan. Marilah kita bertobat. Waktunya cari Tuhan.”
Doa penutup dari khotbah itu membuat suasana hening sejenak: “Tuhan sementara menilai kami, Tuhan tolong kami. Bebaskan kami dalam nama Yesus.”
Pujian dan Persembahan
Pujian “Terlalu besar kasih-Mu Bapa…” mengantar jemaat memasuki saat persembahan. Lagu itu mengalun seolah menjadi ungkapan syukur yang mempersatukan semua hati.
Usai pujian, Sekretaris Jemaat, Ibu Joice Jhulia Romroma, menyampaikan ucapan terima kasih: “Atas nama jemaat dan gembala, kami mengucapkan terima kasih kepada Gembala Sidang, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, atas khotbahnya, juga kepada seluruh jemaat yang hadir.”
Ia kemudian mengumumkan agenda gereja: Selasa – Menara Doa, pukul 19.00, Rabu – Ibadah WGBI, pukul 19.00 Kamis – Ibadah Komsel MBT, pukul 19.00 dan Sabtu – Doa puasa di rumah masing-masing, penutupan pukul 16.00 di gereja serta lanjut: latihan Minggu Raya dan Sekolah Minggu.
Sore ini juga, Jemaat dan pemuda diumumkan untuk hadir dalam kegiatan kerja bakti pukul 16.00, membawa parang, pacul, makanan ringan, dan minuman.
Berkat dan Pulang Membawa Sukacita
Menjelang akhir ibadah, lagu “Sebab Kau Besar, perbuatan-Mu ajaib…” mengiringi jemaat bersiap menerima berkat.
Dengan tangan terangkat, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan menyampaikan doa berkat: “Haleluya. Tuhan berkati mereka jemaat, panitia gereja, persembahan, dan anak-anak. Tuhan berkati engkau, hadapkan wajah-Nya, tercurah dalam kehidupan kami. Damai sejahtera menyertai semuanya.”
Lagu “Bapa Terima Kasih” menjadi penutup yang lembut dan menenangkan.
Setelah ibadah selesai, jemaat saling bersalaman, berfoto dan pulang membawa sukacita yang tampak dari wajah-wajah mereka, sebuah pagi yang meninggalkan jejak hangat dalam kehidupan setiap orang yang hadir.(jk)
Jika Anda ingin versi press release, straight news, atau versi feature lebih panjang, saya siap menyusunkan ulang.










