“Jembatan Bailey Kapuas Jadi Sorotan: Tiang Pancang Kurang,Material Diduga Tak Standar”

banner 468x60

“Jembatan Bailey Kapuas Jadi Sorotan: Tiang Pancang Kurang,Material Diduga Tak Standar”

"Jembatan Bailey Kapuas Jadi Sorotan: Tiang Pancang Kurang,Material Diduga Tak Standar"
“Jembatan Bailey Kapuas Jadi Sorotan: Tiang Pancang Kurang,Material Diduga Tak Standar”

( Kapuas Hulu ) – Info86News.com – Kamis.30/04/2026/- Proyek pembangunan Jembatan Bailey senilai Rp3,4 miliar di Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, kini tak lagi sekadar proyek infrastruktur. Di mata warga, proyek ini mulai dipandang sebagai potensi ancaman keselamatan.

Sejumlah temuan di lapangan mengindikasikan adanya dugaan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis. Dari material hingga struktur utama, pelaksanaan proyek disebut menyisakan banyak kejanggalan yang belum terjawab.Salah satu sorotan utama adalah penggunaan material konstruksi. Pasir dan kerikil untuk oprit dan struktur jembatan diduga diambil langsung dari sungai sekitar tanpa kejelasan uji mutu laboratorium.

Praktik ini memunculkan pertanyaan serius: apakah material tersebut layak menopang konstruksi yang akan digunakan masyarakat setiap hari?

Namun yang lebih mengkhawatirkan justru terletak pada pondasi jembatan. Tiang pancang beton yang menjadi tulang punggung struktur hanya ditanam dengan kedalaman sekitar 4 hingga 5 meter. Di wilayah dengan karakter tanah lunak seperti kawasan bantaran sungai, kedalaman tersebut dinilai rawan jika tidak didukung kajian teknis yang kuat.

Lebih jauh lagi, muncul dugaan ketidaksesuaian jumlah tiang pancang. Dari total 12 tiang yang seharusnya terpasang, di lapangan hanya terlihat 11 tiang yang dicor. Selisih satu tiang ini bukan sekadar angka melainkan potensi risiko struktural yang bisa berdampak fatal jika diabaikan.
“Ini bukan soal kurang satu tiang saja, tapi soal keselamatan banyak orang,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Proyek yang dikerjakan oleh CV Bangun Jaya tersebut hingga kini belum memberikan penjelasan resmi terkait berbagai temuan tersebut. Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kapuas juga belum merespons permintaan konfirmasi yang telah dilayangkan.
Minimnya transparansi semakin memperkuat kecurigaan publik. Apakah ini sekadar kelalaian teknis, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?

Dorongan agar dilakukan audit pun menguat. Sejumlah pihak menilai lembaga pengawas seperti Badan Pemeriksa Keuangan perlu turun tangan untuk mengusut tuntas proyek ini, sebelum potensi kerugian negara dan risiko keselamatan benar-benar terjadi.
Jika dugaan ini terbukti, maka proyek yang seharusnya menjadi penghubung antarwilayah justru bisa berubah menjadi “bom waktu” yang mengancam masyarakat.

#By Narasi. ( Toni – Kalteng )
@Https//Info86News.com

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *