Pastor Pius Ajak Umat Tinggalkan Sikap Memecah Belah

banner 468x60

Pastor Pius Heljanan MSC: Jangan Jadi Perusak Kesatuan Umat
http://info86news.com | Saumlaki – Dalam refleksi iman yang disampaikan di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Senin pagi (25/5/2026), Pastor Pius Heljanan MSC menegaskan pentingnya menjaga kesatuan umat sebagai bagian dari panggilan hidup menggereja.

Mengangkat sabda Yesus di kayu salib, “Inilah anakmu. Inilah ibumu,” Pastor Pius mengajak umat merenungkan kembali keteladanan Bunda Maria yang setia mendampingi Yesus dalam seluruh perjalanan hidup-Nya, termasuk dalam penderitaan di salib.

Menurutnya, Maria menjadi teladan iman yang tidak hanya hadir dalam sukacita, tetapi juga dalam pergumulan, kesetiaan, dan pengorbanan. “Selama hidupnya, Bunda Maria memperlihatkan teladan kesetiaan dengan mendampingi dan merawat Yesus Putranya dalam segala peristiwa hidup. Tantangan dan pergumulan dihadapi dengan iman yang teguh,” ujar Pastor Pius Heljanan MSC.

Panggilan untuk Merawat Gereja
Dalam refleksinya, Pastor Pius menegaskan bahwa umat beriman dipanggil untuk mengambil bagian dalam merawat kehidupan Gereja, bukan sebaliknya menjadi pihak yang melemahkan persatuan.

Ia menekankan bahwa kesatuan umat merupakan fondasi penting dalam kehidupan komunitas iman yang sehat dan bertumbuh. “Kita dipanggil untuk ikut merawat kehidupan Gereja, seperti Bunda Maria merawat Yesus. Kita memelihara kesatuan dan persekutuan umat, peduli dengan kebutuhan Gereja,” tegasnya.

Dengan nada kritis, ia juga mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam sikap yang dapat merusak kebersamaan di tengah komunitas. “Jangan menjadi pribadi yang merongrong atau perusak, pemecah belah umat. Jangan pelit memberi diri demi pelayanan dan kebutuhan Gereja,” ujarnya.

Seruan Pertobatan dan Keteladanan
Lebih jauh, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat untuk melakukan pertobatan batin dan kembali meneladani kesetiaan Bunda Maria dalam kehidupan menggereja.

Ia menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga kesatuan, pelayanan, dan kepedulian terhadap Gereja.
“Mari bertobat dan belajar setia merawat hidup menggereja seperti Bunda Maria,” pungkasnya, merujuk pada Injil Yohanes 19:25-34.

Refleksi tersebut menjadi penegasan moral bahwa kesatuan umat bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijaga di tengah dinamika kehidupan bergereja di Tanimbar.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *