RD. Domincs Baldawins Masriat: Bahagia Tak Selalu Tentang Memiliki

banner 468x60

http://info86news.com | Manila – Di tengah dunia yang kerap mengukur kebahagiaan dari harta, kuasa, dan kenyamanan hidup, Sabda Tuhan justru menghadirkan perspektif yang berbeda. Kebahagiaan sejati bukanlah soal seberapa banyak yang dimiliki seseorang, melainkan seberapa dekat dirinya dengan Tuhan dan seberapa setia ia menjalani kebenaran.

Pesan itu mengemuka dalam refleksi Sejenak Sabda yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary University of Santo Tomas (UST), Manila, Filipina, Senin (8/6/2026), berlandaskan Bacaan Liturgi Hari Biasa Pekan Biasa X dari Kitab 1 Raja-raja 17:1-6 dan Injil Matius 5:1-12.

Dalam permenungannya, RD. Domincs mengajak umat untuk memahami kembali makna kebahagiaan sebagaimana diajarkan Yesus melalui Sabda Bahagia. Menurutnya, ajaran Kristus secara tegas membalik ukuran keberhasilan dan kebahagiaan yang selama ini dibangun dunia.

“Dunia sering mengajarkan bahwa bahagia berarti punya banyak harta, kuasa, dan tidak punya masalah. Yesus membalikkan logika ini dengan mengatakan bahwa orang yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, dan yang dianiaya justru diberkati,” ungkapnya.

Refleksi tersebut mengandung pesan mendalam bahwa kebahagiaan tidak boleh digantungkan pada materi maupun keadaan yang selalu berubah. Sebaliknya, kebahagiaan sejati lahir dari kedamaian batin, kedekatan dengan Tuhan, dan keyakinan bahwa hidup dijalani dalam jalan yang benar.

“Kebahagiaan sejati adalah ketenangan batin yang muncul karena kedekatan dengan Tuhan dan kepuasan karena telah melakukan hal yang benar,” tegas RD. Domincs.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya kerendahan hati sebagai fondasi kehidupan beriman. Menjadi “miskin di hadapan Allah” bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan memiliki kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

“Menjadi miskin di hadapan Allah berarti mengakui bahwa kita butuh Tuhan setiap hari. Menjadi lemah lembut berarti mampu mengendalikan kekuatan kita agar tidak melukai orang lain, tetapi justru membawa kedamaian,” katanya.

Di tengah meningkatnya individualisme dan sikap acuh terhadap sesama, umat juga diajak untuk membangun empati yang tulus. Menurut RD. Domincs, seorang pengikut Kristus dipanggil untuk berani merasakan penderitaan orang lain serta menjaga integritas hidup tanpa kepura-puraan.

“Kita dipanggil untuk memiliki empati, berani merasakan penderitaan sesama. Apa yang ada di hati harus sama dengan apa yang keluar di mulut dan tindakan, tanpa kepura-puraan,” ujarnya.

Tak hanya itu, refleksi tersebut menegaskan bahwa setiap orang yang telah menerima Tubuh dan Darah Kristus harus menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.

Dalam situasi yang sering diwarnai konflik, perpecahan, dan polarisasi, umat beriman dituntut hadir sebagai jembatan persaudaraan, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan pengampunan.

“Seorang pengikut Kristus harus menjadi pembawa damai, bukan pembuat konflik. Kita harus aktif mencari keadilan dan selalu siap mengampuni karena kita sendiri telah menerima pengampunan yang besar dari Tuhan,” tutur RD. Domincs.

Ia juga mengingatkan bahwa memperjuangkan kebenaran tidak selalu mendatangkan pujian. Tidak jarang seseorang harus menghadapi kritik, penolakan, bahkan kebencian karena memilih berdiri di pihak yang benar.

“Melakukan hal yang benar tidak selalu mendapat tepuk tangan; terkadang justru mendatangkan kritik atau kebencian. Tetaplah berbuat baik dan benar meskipun itu sulit atau membuat kita tidak populer, karena nilai moral kita tidak ditentukan oleh pendapat orang lain, melainkan oleh Tuhan,” tegasnya.

Pada akhirnya, refleksi Sabda Bahagia menjadi undangan bagi setiap orang untuk membangun hidup yang lebih rendah hati, lebih peka terhadap penderitaan sesama, lebih berani memperjuangkan kebenaran, dan lebih setia menghadirkan damai di tengah dunia.

Melalui doa penutupnya, RD. Domincs Baldawins Masriat memohon agar Tuhan senantiasa membimbing umat untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, keadilan, keberanian membela kebenaran, serta kesediaan menjadi pembawa damai bagi lingkungan sekitar.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menemukan Tuhan sebagai pusat dari seluruh perjalanan hidup.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *