Melawan Mitos Kemiskinan di Tengah Kekayaan Blok Masela
http://info86news.com | Kepulauan Tanimbar – (Jumat, 15/5/26) Di tengah besarnya potensi migas di Blok Masela, harapan agar masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton terus disuarakan. Kekayaan sumber daya alam dinilai tidak boleh berujung pada ironi kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat di daerah penghasil.
Direktur BPI, Joe Noya, menyerukan agar putra-putri Tanimbar bangkit dan berdiri tegak menghadapi apa yang ia sebut sebagai “mitos” daerah kaya sumber daya alam tetapi masyarakatnya tetap tertinggal.
“Putra Putri Tanimbar harus bangkit dan berdiri tegak bersatu melawan paradoks bahwa masyarakat yang kaya sumber daya alam akan dibiarkan terbelakang sehingga sumber daya alam dengan mudah dikuras,” kata Joe Noya.
Menurutnya, satu-satunya jalan untuk melawan kondisi tersebut ialah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya penguasaan keterampilan profesional di bidang minyak dan gas.
Dorongan Pengembangan SDM Migas
Joe Noya menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah serius dengan membangun kerja sama bersama berbagai elemen masyarakat guna menyiapkan program pengembangan sumber daya manusia yang terarah dan berkelanjutan.
Program yang tengah dijalankan BPI disebut menyasar sedikitnya 3.500 tenaga kerja usia produktif 20 hingga 40 tahun di 10 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar melalui pendidikan vokasional dan sertifikasi kompetensi standar migas.
“Tidak ada jalan lain selain seluruh generasi muda harus belajar menguasai skill profesional di bidang migas,” ujarnya.
Ia menegaskan, kehadiran proyek strategis nasional seperti Blok Masela seharusnya menjadi momentum kebangkitan masyarakat Tanimbar, bukan justru menghadirkan ketimpangan baru.
Anak Tanimbar Disebut Ahli Waris Masela
Dalam pandangannya, masyarakat lokal, khususnya generasi muda Tanimbar, bukan beban bagi investor maupun perusahaan migas yang beroperasi di wilayah tersebut.
“Putra Putri Tanimbar bukan beban bagi Inpex, tetapi ahli waris Blok Masela yang sepatutnya diperhatikan,” ujar Joe Noya.
Ia juga meminta INPEX Corporation untuk turut membantu pemerintah daerah dalam proses pengembangan kapasitas sumber daya manusia lokal. “Mereka pada akhirnya adalah aset bagi Inpex ke depannya,” katanya.
Siapkan 50 Bidang Kompetensi
BPI saat ini mengembangkan program vokasional dengan 50 bidang kompetensi standar migas yang disiapkan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di sektor energi dan industri penunjang.
Tahapan awal difokuskan pada verifikasi peserta Grade D untuk bidang hospitality dan Grade C untuk bidang technical supporting. Selanjutnya, BPI menargetkan penyiapan tenaga kerja Grade B di sektor hilir dan Grade A pada bidang hulu energi.
Menurut Joe Noya, penguasaan keterampilan tersebut menjadi kunci agar generasi muda Tanimbar mampu bersaing dan mengambil bagian dalam proyek migas berskala besar.
Lepas Status Daerah 3T
Di balik geliat proyek Blok Masela, tersimpan harapan besar agar Kabupaten Kepulauan Tanimbar dapat keluar dari label daerah terluar, tertinggal, dan termiskin.
Joe Noya menilai stigma tersebut harus dipatahkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perubahan pola pikir generasi muda. “Saatnya anak Tanimbar membuktikan diri secara cerdas bahwa label daerah terluar, tertinggal, dan termiskin adalah masa lalu,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh putra-putri Tanimbar untuk bersatu, memperbaiki karakter, dan meningkatkan kompetensi agar mampu mengelola kekayaan alam daerah secara mandiri demi kesejahteraan masyarakat.
“Hanya dengan kecerdasan kita akan mampu mengelola sumber daya alam yang kita miliki untuk melepaskan diri dari jeratan kemiskinan dan meraih kesejahteraan di seluruh Tanah Tanimbar,” kata Joe Noya menutup.(rls:fn/joko)










