Euforia Masela dan Tantangan Besar SDM Lokal
http://info86news.com | Kepulauan Tanimbar, 16 Mei 2026 – Euforia hadirnya Mega Proyek Migas Inpex Blok Masela terus terasa di Maluku, khususnya di lima kabupaten yang terdampak langsung, termasuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Harapan besar masyarakat terhadap terbukanya lapangan pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan ikut tumbuh bersama percepatan proyek strategis nasional tersebut.
Namun di balik optimisme itu, persoalan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal masih menjadi pekerjaan besar yang dinilai perlu ditangani secara serius dan menyeluruh. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai program pengembangan SDM telah dijalankan pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Sejumlah putra-putri daerah dikirim mengikuti pendidikan formal perminyakan maupun pendidikan vokasional sertifikasi kompetensi standar migas dengan dukungan anggaran APBD yang tidak sedikit. Sayangnya, hasil yang diperoleh dinilai belum maksimal.
Banyak peserta pendidikan disebut belum terarah dalam memilih jurusan maupun pengembangan kompetensi lanjutan. Kondisi itu menyebabkan sebagian lulusan belum terintegrasi secara baik dengan kebutuhan industri migas yang sesungguhnya.
Akibatnya, ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan kompetensi di lapangan kerja, khususnya pada Mega Proyek Migas Inpex Blok Masela.
Verifikasi Ulang dan Program Up Skilling
Direktur PT Bangkit Prestasi Insani (BPI), Joe Noya, mengatakan persoalan SDM tersebut harus segera dibenahi melalui pendekatan yang lebih terukur dan tepat sasaran.
Menurutnya, BPI bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan mitra dari Disperindag saat ini tengah melakukan verifikasi ulang terhadap calon peserta pengembangan SDM. “Untuk memecahkan problem penanganan SDM yang tidak tepat sasaran tersebut maka BPI bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersama mitra Disperindag KKT saat ini melakukan verifikasi ulang untuk mengetahui sejauh mana minat dan bakat, serta latar belakang pendidikan maupun skill dasar yang dimiliki,” ujar Joe Noya dalam keterangannya kepada media.
Verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan peserta benar-benar memiliki minat, kemampuan dasar, dan arah kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri migas. Melalui program up skilling, peserta diharapkan memperoleh standarisasi kompetensi, pengalaman, serta pemahaman kerja sesuai standar industri migas sehingga mampu bersaing secara profesional ketika proyek Masela mulai berjalan penuh.
Penanganan SDM Harus Holistik
Joe Noya menilai penanganan SDM Tanimbar tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya berhenti pada proses pendidikan dan pelatihan semata.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu mulai merancang pola hilirisasi SDM secara terintegrasi, mulai dari pendidikan, pelatihan, sertifikasi, hingga koneksi langsung dengan dunia industri. “SDM Tanimbar harus ditangani secara holistik,” tegasnya.
Ia menjelaskan, setelah memperoleh pendidikan formal maupun pelatihan vokasional, putra-putri Tanimbar perlu diarahkan masuk dalam program magang dan pengalaman kerja di berbagai sektor pendukung industri migas. Bidang tersebut meliputi jasa hospitality, jasa technical supporting, jasa hilir, hingga sektor utama hulu energi.
Joe Noya menyebutkan, BPI telah membentuk empat bidang utama dengan total sekitar 50 bidang kompetensi yang disiapkan untuk mendukung kebutuhan tenaga kerja di Mega Proyek Masela.
Langkah tersebut dinilai penting agar peluang keterlibatan masyarakat lokal tidak hanya menjadi slogan semata. “Strategi hilirisasi dalam partisipasi untuk memanfaatkan semua potensi yang ada supaya slogan local pride itu nyata sesuai regulasi pemerintah TKA 007 untuk pemberdayaan masyarakat lokal Tanimbar sebesar 30 persen dapat diraih secara maksimal,” katanya.
Memahami Kebutuhan Industri Migas
Dalam pandangannya, seluruh perangkat pemerintah mulai dari tingkat RT hingga OPD terkait perlu memahami kebutuhan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan industri migas. Hal itu penting agar arah pendidikan dan pelatihan masyarakat benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja di proyek LNG Masela, baik pada fasilitas lepas pantai (offshore) maupun kilang LNG di Desa Larmatang, Kecamatan Tanimbar Selatan.
Joe Noya mencontohkan, generasi muda Tanimbar yang ingin bekerja di dermaga LNG Inpex harus memiliki kompetensi khusus melalui pendidikan vokasional dan sertifikasi standar migas. “Untuk bisa bekerja di Dermaga kilang LNG paling tidak ada tiga kelas operator, untuk mooring and mooring, operator handling manifold LNG baik yang diekspor tanker maupun erection di dermaga serta operator handling cargo LNG,” ujarnya.
Selain kompetensi teknis, calon pekerja juga diwajibkan memiliki berbagai sertifikasi keselamatan (safety certification) sesuai standar industri migas.
Ia menegaskan bahwa fasilitas dermaga LNG memiliki standar operasional yang jauh berbeda dengan aktivitas pelabuhan umum. “Dermaga LNG Inpex di Desa Lermatang bukan dermaga bongkar muat sembako karena pekerjaan kuli panggul yang ada di dermaga umum bukan fasilitas dermaga LNG milik Inpex di Desa Lermatang,” kata Joe Noya.
Ajakan Bersatu untuk Masa Depan Tanimbar
Di akhir keterangannya, Joe Noya mengajak seluruh elemen masyarakat Tanimbar untuk bersama-sama mendukung pengembangan SDM lokal menghadapi era industri migas.
Ia mendorong generasi muda Tanimbar agar serius mempersiapkan diri melalui pendidikan dan penguasaan keterampilan sesuai kebutuhan industri. “Maju terus putra-putri Tanimbar, fokus belajar sungguh-sungguh untuk menguasai berbagai bidang keterampilan sesuai kebutuhan industri migas,” ujarnya.
Ajakan itu juga ditujukan kepada tokoh agama, tokoh adat, LSM, praktisi migas, serta seluruh pemangku kepentingan agar bersatu mendukung program pemerintah daerah demi masa depan Tanimbar yang lebih baik.(rls:dn/jk)










