http://info86news.com | Saumlaki, 18 April 2026 – Transformasi keterbukaan informasi menjadi langkah awal pembenahan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Saumlaki. Dari yang sebelumnya minim publikasi, kini seluruh aktivitas lembaga mulai didorong tampil ke ruang publik secara terbuka.
Kepala Lapas Kelas III Saumlaki, Prianggoro Agung Wibowo, menegaskan komitmen tersebut saat ditemui di ruang kerjanya di Jl. S. Luturyali, Desa Kabiarat Raya, Kecamatan Tanimbar Selatan, Sabtu (18/4/2026).
“Foto ataupun video… kami sudah ada akun resmi baik itu Instagram, Facebook, Twitter, sampai YouTube. Semua kegiatan kami publikasikan… biar masyarakat bisa mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan dan program dari Pak Menteri maupun Dirjen PAS itu kami laksanakan atau tidak,” ujarnya.
Transparansi sebagai Fondasi Perubahan
Ia mengakui, kondisi sebelumnya menunjukkan keterbatasan dalam hal publikasi.
“Jujur saja, sebelum saya datang, transparansi dan publikasi sangat minim sekali. Makanya semua kegiatan yang kami laksanakan harus dipublikasikan,” katanya.
Langkah ini diperkuat dengan membuka ruang kolaborasi bersama media eksternal.
“Kami juga berpartner dengan media online… kemarin dengan Tinta Rakyat, dan sekarang menjajaki kerja sama dengan Tribun Ambon,” ujarnya.
Menurutnya, keterbukaan bukan sekadar dokumentasi, tetapi bentuk akuntabilitas kepada masyarakat.
Tekanan Overkapasitas di Balik Perubahan
Di tengah upaya pembenahan, Lapas Saumlaki masih dihadapkan pada persoalan klasik: kelebihan kapasitas hunian.
“Kapasitas seharusnya maksimal 150 orang, tapi saat ini terisi 204. Jadi kami sudah dalam kondisi over kapasitas,” ungkapnya.
Penyesuaian pun dilakukan pada ruang hunian. “Kamar yang tadinya kapasitas 11 orang, untuk sementara kami isi 15 orang,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan kebutuhan dasar tetap menjadi prioritas. “Untuk kebutuhan dasar tetap kami penuhi… mereka menyatakan kualitas makanan lebih baik daripada sebelumnya,” ujarnya.
Pelayanan dan Batas Privasi
Dalam bidang kesehatan, lapas telah memiliki izin klinik, meski masih menghadapi keterbatasan tenaga medis.
“Kami belum punya dokter dan perawat, tapi sudah bekerja sama dengan puskesmas… kalau tidak bisa ditangani, dirujuk ke rumah sakit,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga privasi warga binaan dalam setiap publikasi. “Kami publikasikan kegiatan dan hasilnya, tapi tidak menyebut nama… itu privasi yang harus dijaga,” tegasnya.
Pembinaan dan Harapan Kemandirian
Program pembinaan tetap berjalan melalui berbagai kegiatan kemandirian, seperti pertanian dan kerajinan tangan.
“Teman-teman ada yang membuat cincin, anting dari tanduk rusa… keterampilan itu ditularkan ke yang lain,” ujarnya.
Namun, keterbatasan anggaran menjadi tantangan. “Untuk pelatihan kemandirian tahun ini anggarannya tidak ada, jadi kami menjajaki pihak luar agar bisa membantu,” katanya.
Penegakan Disiplin dan Komitmen Bersih
Terkait pengawasan internal, ia memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti. “Kalau ada laporan terhadap petugas, pasti kami lakukan pemeriksaan… kalau terbukti, kami jatuhkan hukuman disiplin,” tegasnya.
Untuk warga binaan, pelanggaran juga dikenai sanksi tegas. “Kalau pelanggaran berat, masuk sel isolasi dan dikenakan register F selama 9 bulan,” jelasnya.
Ia menegaskan komitmen terhadap lingkungan lapas yang bersih dari praktik ilegal. “Untuk pungutan liar tidak ada, narkoba juga tidak ada,” katanya.
Perubahan di Lapas Kelas III Saumlaki dimulai dari hal mendasar: membuka diri kepada publik.
Di tengah keterbatasan dan tekanan overkapasitas, upaya transparansi, pembinaan, dan penegakan disiplin menjadi fondasi menuju sistem pemasyarakatan yang lebih akuntabel dan manusiawi.(rls:jk)










