SOSOK: Bupati Pasaman Welly Suhery dan Wakil Bupati Parulian saat bersama warga dalam sebuah acara. (Dok. Foto Opi/Nanda Prokopim Setda Kab. Pasaman)
Pasaman, Info86News.Com Sekda Yudesri: “Kita pastikan seluruh program berjalan sesuai rencana dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.”

Membangun daerah di tengah keterbatasan anggaran dan tuntutan efisiensi bukanlah perkara mudah. Tak cukup hanya dengan janji atau seremonial, yang dibutuhkan adalah keberanian melangkah meski jalan terasa berat. Hal inilah yang diwujudkan Pemerintah Kabupaten Pasaman di bawah kepemimpinan Bupati Welly Suhery dan Wakil Bupati Parulian melalui sepuluh Program Unggulan Pasaman Bangkit. Kini, semangat itu tak lagi sekadar slogan, tetapi nyata menyentuh kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan.
Pada 17 April 2026, dilakukan rapat evaluasi program di Balerong Pusako Anak Nagari. Bersama seluruh pimpinan daerah, kepala dinas dan tim pembangunan, dibahas secara mendalam agar setiap kegiatan berjalan tepat sasaran.
Sekretaris Daerah Pasaman, Yudesri didampingi Asisten III Roichard menyampaikan, evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh langkah pembangunan tetap pada jalur yang telah ditetapkan.
“Kita pastikan seluruh program berjalan sesuai rencana dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.
Dari hasil pemantauan, berbagai kemajuan mulai tampak. Di kecamatan Simpati, Bonjol, Panti dan Rao Selatan, program Wirid Remaja Bangkit berhasil menghidupkan kembali ruang pembinaan generasi muda berbasis agama dan adat. Anak-anak muda kini kembali berkumpul di surau dan masjid, mempelajari nilai luhur sekaligus mempersiapkan masa depan. Bahkan organisasi kemasyarakatan pun ikut berperan aktif, menyadari bahwa kemajuan daerah tak hanya soal infrastruktur, tetapi juga pembentukan karakter.
Di bidang kesehatan, perhatian diberikan melalui program pengobatan gratis dan layanan ambulans SIGAP yang terus diperkuat. Saat ini juga sedang disusun survei kepuasan masyarakat serta penyempurnaan sistem Rekam Medis Elektronik di RSUD Tuanku Imam Bonjol. Bagi warga yang kesulitan mengakses layanan, kehadiran fasilitas ini menjadi bukti nyata negara hadir untuk melayani.
Dunia pendidikan pun tak luput dari perhatian. Pemerintah menyiapkan pembagian seragam sekolah gratis, yang rencananya diterima siswa baru paling lambat Juli hingga awal Agustus 2026. Bagi keluarga sederhana, ini bukan sekadar kain, melainkan harapan agar anak-anak tetap dapat menempuh pendidikan tanpa beban biaya tambahan.
Penyempurnaan juga dilakukan pada sistem birokrasi. Melalui program ASN Bangkit, kedisiplinan aparatur diperkuat agar pelayanan menjadi lebih cepat, mudah dan transparan. Sebab kemajuan pembangunan sangat bergantung pada kinerja para penyelenggara negara.
Untuk mendukung sektor pertanian, disiapkan program BAGUS atau Bajak Gratis Untuk Semua. Pendaftaran dibuka mulai Mei 2026 guna menyambut musim tanam Juni mendatang. Bantuan ini menjadi penyemangat bagi petani agar lahan tetap diolah dan kesejahteraan keluarga terjaga.
Bagi pencari kerja, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan 12 lembaga penempatan kerja, membuka peluang di dalam negeri maupun luar negeri mulai dari Batam, Malaysia, Jepang hingga Jerman.
Pemerintah juga menangani perumahan layak huni, di mana ratusan unit rumah telah dibangun dengan dukungan gotong royong masyarakat. Di daerah terpencil, akses internet gratis pun mulai tersedia. Hingga April 2026, puluhan jorong telah menikmati fasilitas ini yang mendukung proses belajar mengajar dan layanan kesehatan. Bagi generasi muda di daerah terluar, koneksi ini menjadi jendela untuk mengenal dunia lebih luas.
Tak kalah penting, dibentuk Pusat Kreativitas Anak Nagari sebagai wadah menampilkan seni, budaya dan bakat generasi muda, agar jati diri Pasaman tetap terjaga di tengah arus perubahan zaman. Dalam menghadapi risiko bencana, seluruh nagari ditargetkan menjadi wilayah siaga, ditambah dengan penanaman ribuan pohon sebagai upaya pelestarian lingkungan.
Memang, semua upaya ini belum sempurna. Masih ada kendala dan keterbatasan yang harus diselesaikan. Namun yang terpenting, kemauan untuk terus bergerak nyata ada.
Masyarakat tak selalu menuntut pembangunan yang megah. Mereka hanya ingin diperhatikan, didengar dan diyakinkan bahwa masa depan daerah ini layak diperjuangkan.
Pasaman Bangkit akhirnya bukan sekadar sebutan. Ia terwujud dalam kerja keras petani, semangat belajar anak sekolah, harapan keluarga dan kebersamaan seluruh warga yang memilih untuk bangkit bersama, meski dengan segala keterbatasan yang ada.
(Abdi Novirta)










