Gubernur Sumsel dan Bupati OKI Bermalam di Posko Karhutla, Semangati Petugas Pemadam

banner 468x60

Gubernur Sumsel dan Bupati OKI Bermalam di Posko Karhutla, Semangati Petugas Pemadam

Gubernur Sumsel dan Bupati OKI Bermalam di Posko Karhutla, Semangati Petugas Pemadam
Gubernur Sumsel dan Bupati OKI Bermalam di Posko Karhutla, Semangati Petugas Pemadam


.
( KAYU AGUNG-OKI,) — INFO86NEWS.COM – Saptu.10/10/2026/-Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki bermalam di tenda posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Sabtu (11/10) malam.

Kehadiran keduanya untuk memberikan dukungan langsung kepada petugas yang masih berjuang memadamkan api di tengah kemarau panjang dan kepungan asap.
Di posko tersebut, Deru dan Muchendi berdialog dengan personel satuan tugas (satgas) pemadaman karhutla. Keduanya mendengarkan perkembangan penanganan kebakaran, kendala di lapangan, serta kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung operasi pemadaman.

Deru mengatakan, keputusannya bermalam di posko merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada para petugas yang bekerja dalam kondisi sulit. Selain memberikan dukungan moril, pemerintah juga menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya bagi personel di lapangan.

“Dengan begitu, mereka tahu kami juga memperhatikan dengan cara malam ini menginap di sini,” kata Deru.

Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab. Setelah mendengarkan laporan mengenai kondisi terkini, Gubernur dan Bupati makan malam bersama petugas di depan tenda posko. Dalam kesempatan itu, keduanya juga menyerap aspirasi personel mengenai berbagai tantangan yang dihadapi selama proses pemadaman.

Kemarau Panjang Perberat Pemadaman

Deru mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama dan gotong royong seluruh pihak. Kondisi tahun ini dinilai lebih menantang karena kemarau berkepanjangan yang diperparah fenomena El Nino.

Menurut Deru, wilayah Desa Jungkal sudah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir tercatat pada 27 Juni lalu. Akibatnya, sawah dan sumur mengering, debit air sungai menyusut, sementara lahan dan vegetasi menjadi semakin rentan terbakar.

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi petugas, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut. Selain memadamkan api yang sudah muncul, mereka juga harus mengantisipasi potensi kebakaran baru yang dapat meluas akibat kondisi lingkungan yang kering dan tiupan angin.
“Kita harus sikapi ini dengan teguh tapi sabar serta terus berikhtiar,” ujar Deru.

Ia meminta masyarakat ikut membantu upaya penanganan karhutla dengan menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan. Menurut dia, pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan munculnya titik api baru sekaligus mengurangi beban petugas yang masih berjibaku di lapangan.

“Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api,” katanya.

Deru juga mengingatkan bahwa material kering, seperti ranting dan daun, dapat menjadi pemicu kebakaran apabila kondisi lingkungan mendukung. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.

Puluhan Titik Api Terdeteksi di Jungkal

Desa Jungkal menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla di Kabupaten OKI. Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan, terdapat 47 titik panas (hotspot) dan sembilan titik api (firespot) di wilayah tersebut.

Deru menyebut Kabupaten OKI sebagai salah satu daerah dengan jumlah titik panas dan titik api terbanyak saat ini. Kondisi geografis OKI yang memiliki banyak lahan gambut turut meningkatkan kerawanan kebakaran.

Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, Desa Jungkal merupakan salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, terutama di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.

Muchendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi asap yang terjadi. Ia mengatakan, pemerintah kabupaten akan berupaya maksimal untuk mengatasi kebakaran dan mengurangi dampaknya.

“Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini,” ujar Muchendi.

Upaya pemadaman menghadapi kendala operasional. Helikopter untuk pengeboman air (water bombing) belum dapat mengudara karena jarak pandang yang rendah. Padahal, dukungan pemadaman dari udara dibutuhkan untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Pada saat bersamaan, angin yang berembus ke arah utara membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Kondisi ini membuat dampak karhutla meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat di luar wilayah kebakaran.

#By Narasi Redaksi.( Andi wijaya.SH.)
@Https//Info86News.com

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *