Ketika Kepercayaan Dikhianati: Kisah Nyata Seorang Jurnalis Lugu yang Terjebak Ambisi dan Kelicikan Seseorang yang Berwatak Kotor

banner 468x60

Di sebuah kabupaten, sekitar tiga tahun silam, hiduplah dua orang dengan latar belakang yang sangat berbeda. Sebut saja mereka A dan B.

A adalah seorang jurnalis muda. Ia masih awam dalam dunia pers, lugu, dan memegang keyakinan tulus bahwa profesi wartawan adalah jalan mulia untuk menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Sebaliknya, B adalah seorang oknum yang kerap mengatasnamakan lembaga swadaya masyarakat. Di balik senyum ramah dan tutur katanya yang halus, tersembunyi ambisi besar serta cara berpikir yang licik.

Suatu hari, berlangsung proyek pembangunan di salah satu desa. Hampir setiap hari B mendatangi lokasi, memotret, merekam video, dan mengumpulkan berbagai dokumentasi. Kepada sejumlah pihak, ia mengklaim proyek tersebut menggunakan material hasil galian ilegal. Namun tujuan sebenarnya bukan memperjuangkan kepentingan warga, melainkan mencari celah agar proyek itu bisa dijadikan alat tekanan.

B kemudian bertemu C, dan keduanya menyusun rencana agar pemberitaan dijadikan dasar pelaporan, dengan harapan kontraktor bersedia “menyelesaikan persoalan”. Rencana itu gagal, namun B tak menyerah. Ia menghubungi A, memintanya menulis berita berdasarkan bahan yang dikirim. A pun menyusun tulisan, namun kemudian mendengar kabar bahwa proyek itu sudah “beres” — diduga B telah menerima uang puluhan juta rupiah. A sadar dirinya dimanfaatkan, lalu mulai menjaga jarak.

Namun B kembali mendekat, memohon agar direkomendasikan bergabung di media tempat A bekerja. Karena lugu, A menuruti permintaan itu, dan B pun resmi menjadi bagian tim.

Menjelang pemilihan kepala daerah, A aktif menulis berita mengenai kandidat yang dinilainya dekat dengan rakyat, dan tulisan-tulisannya sempat dimuat. Sementara itu, B tak mampu menghasilkan satu pun tulisan yang layak. Rasa iri pun tumbuh, dan ia mulai menyebarkan hasutan kepada pimpinan redaksi.

Kini, secara tiba-tiba seluruh berita yang telah terbit mengenai kandidat pilihan A ditarik dan dihapus dari situs media tersebut. A hanya bisa terpaku dan pasrah melihat karyanya lenyap begitu saja.

Dengan hati bertanya-tanya, A mencoba menghubungi pimpinan redaksi melalui telepon seluler. Ia bertanya, “Mengapa berita-berita yang sudah saya kerjakan dan terbit sebelumnya kini semuanya ditarik kembali?”

Jawaban yang diterima sungguh menghancurkan hati A. Setelah sekian tahun mengabdi dan berjuang di media itu, pimpinan redaksi menjawab dengan nada dingin: “Itu karena B telah membayar sejumlah uang tertentu kepada redaksi. Kini kami memberikan wewenang penuh kepadanya untuk mengatur dan menangani seluruh berita yang masuk dari wilayah provinsi ini.”

Mendengar itu, A tak berdaya. Ia hanya bisa menerima kenyataan pahit bahwa integritas dan kerja kerasnya dikalahkan oleh uang dan kelicikan. Akhirnya, dengan berat hati ia memutuskan hubungan kerja dengan redaksi tersebut.

A tak berhenti berjuang. Ia berusaha bergabung ke media lain, dan berhasil diterima. Di tempat barunya, ia kembali menulis dan merilis berita mengenai kandidat pilihannya. Setelah berita itu terbit, A pun membagikan tautan karyanya ke berbagai grup WhatsApp rekan sejawat. Namun sayang, bahkan di sana pun ia tak lepas dari gangguan — tak lama kemudian, postingannya diminta dihapus oleh admin grup.

BERSAMBUNG

Penulis: Rakyat Jelata

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *