http://info86news.com | Saumlaki – Suasana pagi yang tenang di hari Jumat, 23 Januari 2026, menjadi momen reflektif bagi umat Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dalam sapaan rohani yang penuh makna, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat kembali menyadari panggilan dasar sebagai pengikut Kristus: mewartakan kabar gembira.
Menurut Pastor Pius, panggilan untuk menjadi pewarta Injil bukanlah pilihan manusia, melainkan inisiatif Allah sendiri. Ia mengingatkan umat pada kisah pemanggilan para murid Yesus sebagaimana tertulis dalam Injil Markus.
“Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia,” ujar Pastor Pius Heljanan MSC, seraya menegaskan bahwa keterpilihan sebagai murid Kristus adalah anugerah, bukan karena kehebatan atau kesempurnaan manusia.
Ia menjelaskan, Yesus memanggil dua belas murid bukan hanya untuk berjalan bersama-Nya, tetapi juga mempercayakan kepada mereka kuasa dan tanggung jawab untuk mewartakan Injil.
Pola panggilan itu, lanjutnya, tetap berlaku bagi setiap orang beriman hingga hari ini.
“Setiap pengikut Yesus mengambil bagian dalam peran yang sama seperti para murid. Kita dipilih dan dilibatkan dalam pewartaan Injil bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita membuka hati untuk mendengarkan panggilan-Nya,” kata Pastor Pius.
Dalam refleksinya, Pastor Pius juga menyoroti kenyataan bahwa manusia kerap lalai menjalankan peran sebagai anak Tuhan.
Kesibukan, rasa takut, dan kesadaran akan keterbatasan diri sering menjadi alasan untuk tidak bersaksi tentang iman.
Namun, menurutnya, keterbatasan bukanlah penghalang bagi karya Tuhan. Justru dalam kerapuhan itulah penyertaan Allah nyata.
“Dalam kerapuhan dan keterbatasan diri, Tuhan tetap menyertai dan menguatkan kita. Karena itu, jangan takut bersaksi tentang Yesus kepada sesama, baik melalui kata maupun perbuatan,” tegasnya.
Mengakhiri pesannya, Pastor Pius mengajak umat untuk setia mengikuti Kristus dan berani menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Pewartaan Injil, menurutnya, tidak selalu harus melalui mimbar, tetapi dapat diwujudkan lewat sikap hidup, tindakan kasih, dan kesetiaan dalam menjalani panggilan masing-masing, sebagaimana teladan para murid yang pertama.(jk)










