Standar Surga dan Dunia Berbeda Tajam
http://info86news.com | Saumlaki, Minggu (10/5/2026) – Pdt. Haris Boritnaban, S.Th., mengingatkan jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki agar tetap hidup menurut standar Allah dan tidak mengikuti pola hidup dunia yang dinilai semakin jauh dari nilai kasih, pengampunan, dan kebenaran firman Tuhan.
Pesan tersebut disampaikannya dalam khotbah Minggu Raya di GBI Milos Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dalam khotbah bertema “Hidup Menurut Standar Allah atau Standar Dunia”, Pdt. Haris menegaskan bahwa nilai-nilai Kerajaan Surga memiliki perbedaan yang sangat tajam dengan pola pikir duniawi. “Standar surga dan dunia itu berbeda tajam, seperti terang dan gelap yang tidak mungkin disatukan,” tegasnya di hadapan jemaat.
Kasih Tanpa Syarat Jadi Ajaran Yesus
Ia menjelaskan, dunia pada umumnya mengajarkan kasih yang bersifat timbal balik, yakni mengasihi karena ingin dikasihi kembali. Namun Yesus, menurutnya, justru mengajarkan kasih tanpa syarat, bahkan kepada musuh sekalipun.
Mengutip Lukas 6:27, ia menyampaikan bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup melampaui standar moral biasa. “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu,” kutipnya.
Menurut Pdt. Haris, sikap kasih yang hanya diberikan kepada orang-orang tertentu tidak berbeda dengan cara hidup orang yang tidak mengenal Tuhan. “Sebagai orang percaya, kita dituntut memiliki standar moral yang melampaui orang baik pada umumnya. Jangan mengasihi hanya karena mengharapkan balasan,” ujarnya.
Kekerasan Dinilai Bukan Jalan Penyelesaian
Selain menyoroti tentang kasih, ia juga mengkritisi pola penyelesaian konflik yang masih sering dilakukan dengan kekerasan dan emosi. Menurutnya, dunia mengajarkan balas dendam, sedangkan Yesus mengajarkan pengampunan dan kebaikan.
“Banyak konflik terjadi karena diselesaikan dengan cara yang keliru. Kita sering berpikir kekerasan bisa menyelesaikan masalah, padahal justru melahirkan luka baru,” katanya.
Dalam khotbahnya, Pdt. Haris turut mengingatkan pentingnya pendidikan rohani dalam keluarga, terutama bagi para orang tua agar tidak melukai hati anak-anak melalui kemarahan dan kekerasan verbal.
Tegakkan Keadilan Tanpa Main Hakim Sendiri
Ia menegaskan bahwa orang percaya tetap harus memperjuangkan keadilan, namun tidak dengan cara main hakim sendiri. “Yesus tidak mengajarkan kita diam terhadap ketidakadilan. Keadilan harus ditegakkan, tetapi bukan dengan cara membalas kejahatan dengan kejahatan,” tandasnya.
Pdt. Haris juga mengajak jemaat untuk terus membangun disiplin rohani dan memperkuat persekutuan melalui kelompok sel (komsel), agar kehidupan iman tetap bertumbuh di tengah tantangan zaman.
Ibadah Berlangsung Penuh Sukacita
Ibadah Minggu Raya tersebut diawali dengan pujian dan penyembahan yang dipimpin Ibu Gembala Jemaat Anissa Wahilaitwan bersama tim singer dan pemusik.
Suasana ibadah berlangsung penuh sukacita dan penghayatan rohani. Di akhir ibadah, jemaat menyampaikan apresiasi atas pelayanan firman yang dinilai memberi penguatan iman di tengah tantangan kehidupan modern yang semakin kompleks.
Ibadah kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th., sebelum jemaat meninggalkan gereja dengan penuh sukacita dan damai.(jk)










