http://info86news.com | Saumlaki – Tidak semua pelayanan di altar berlangsung di depan mimbar. Ada tangan-tangan yang bekerja tanpa sorotan, memastikan setiap Perayaan Ekaristi berlangsung khidmat, lonceng berdentang tepat waktu, lilin menyala, tata suara terdengar jernih, hingga derma umat tercatat dengan baik. Mereka adalah para koster, pelayan yang setia bekerja dalam diam demi menjaga kesakralan Rumah Tuhan.
Suasana penuh syukur itu terasa di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jumat (19/6/2026).
Usai Perayaan Misa Harian dan Novena Santo Antonius Padua hari ke-8, Pastor Paroki RD Ponsianus Ongirwalu memberikan apresiasi sederhana berupa bantuan “uang pulsa” kepada para koster sebagai ungkapan terima kasih atas dedikasi mereka yang selama ini mengabdi tanpa pamrih.
Bagi RD Ponsianus, penghargaan tersebut bukan diukur dari besar kecilnya nilai materi, melainkan sebagai bentuk perhatian Gereja kepada mereka yang telah menjaga kehidupan liturgi setiap hari dengan penuh kesetiaan.
Di balik setiap ibadat yang berlangsung khidmat, para koster memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka menarik lonceng gereja, menyiapkan perlengkapan liturgi, memastikan sistem pengeras suara berfungsi dengan baik, hingga membantu Bendahara Paroki menghitung persembahan umat. Sebagian dari mereka telah mengabdikan diri selama satu tahun, dua tahun, bahkan memasuki tahun ketiga pelayanan.
Salah satu pelayan altar, Suster Elis, ALMA, yang telah mengabdi selama dua tahun sebagai koster sekaligus Koordinator Putra-Putri Altar (PPA), mengaku menemukan sukacita dalam setiap tugas yang dijalani.
“Sudah dua tahun saya mengemban tugas sebagai Koster sekaligus Koordinator PPA melalui SK resmi dari Pastor Paroki HKY Olilit Barat. Menuntun anak-anak pelayan altar dan mempersiapkan sarana Ekaristi adalah cara saya mencintai Gereja. Lelah itu manusiawi, tetapi sukacita saat melihat altar siap untuk Kurban Kudus mengalahkan segalanya,” tuturnya.
Kesaksian serupa disampaikan Frets Bwarleli, yang telah satu tahun melayani sebagai koster. Baginya, pelayanan bukan sekadar rutinitas, tetapi ungkapan syukur atas anugerah kesembuhan yang diterimanya.
“Pelayanan ini adalah bentuk nazar dan syukur saya. Setelah melewati masa-masa sakit yang berat dan dianugerahi kesembuhan oleh Tuhan, saya menyerahkan diri sepenuhnya untuk menjadi pelayan koster. Setiap dentang lonceng yang saya tarik adalah pujian hidup saya bagi Tuhan yang sudah menyembuhkan saya,” ungkapnya.
Sementara itu, kisah penuh haru datang dari John Wandan. Sejak duduk di bangku kelas I SMP dan kehilangan kedua orang tuanya, ia diasuh oleh Pastor Paroki dan tinggal di pastoran. Kini, enam tahun telah berlalu, dan gereja menjadi rumah yang membentuk perjalanan hidupnya.
“Sejak kelas 1 SMP, ketika kedua orang tua saya dipanggil pulang oleh Tuhan, Pastor Paroki mengambil saya, menjaga, dan membesarkan saya di pastoran. Kini sudah enam tahun saya berada di sini, bertumbuh dan membantu Pastor dalam segala hal. Pastoran dan gereja ini telah menjadi rumah kedua tempat saya belajar arti kesetiaan dan ketulusan hidup,” katanya.
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, pelayanan para koster mengandung makna rohani yang sangat mendalam. Ia mengingatkan bahwa Allah tidak menilai besar kecilnya tugas seseorang, melainkan kesetiaan dalam menjalankannya.
“Pekerjaan seorang koster mungkin luput dari pandangan manusia, tetapi sangat besar di mata Allah. Menarik lonceng, menyalakan lilin, dan menghitung derma adalah ibadah nyata yang langsung menyentuh Sakramen Kudus,” ujar RD Ponsianus.
Ia juga mengajak seluruh pelayan altar untuk terus menjalankan tugas dengan hati yang gembira, bukan sebagai beban, melainkan sebagai kehormatan karena dipercaya merawat rumah Tuhan.
“Jalani tugas ini bukan sebagai beban, melainkan sebagai hak istimewa karena dipilih langsung oleh Tuhan untuk merawat rumah-Nya. Tetaplah sehati dan sejiwa dalam bekerja sama dengan Pastor, Bendahara, dan seluruh pengurus demi kelancaran pelayanan Gereja,” pesannya.
Menutup refleksinya, RD Ponsianus kembali mengingatkan pesan Injil yang menjadi fondasi setiap pelayanan. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Refleksi tersebut menjadi penegasan bahwa Gereja dibangun bukan hanya oleh mereka yang berkhotbah di mimbar, tetapi juga oleh orang-orang sederhana yang bekerja dalam kesunyian.
Di balik dentang lonceng, nyala lilin, dan altar yang tertata rapi, ada ketulusan hati yang terus dipersembahkan kepada Tuhan.
Kesetiaan mereka mungkin tidak selalu terlihat oleh manusia, namun diyakini menjadi persembahan yang berharga di hadapan Allah dan menjadi inspirasi bagi umat untuk melayani dengan kasih, kerendahan hati, dan sukacita.(jk)










