http://info86news.com | Olilit Barat, 2 Maret 2026 – Pagi masih menyisakan embun ketika Pastor Paroki RD Ponsianus Ongirwalu melangkah keluar dari Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat (HKY), Senin (2/3/2026).
Usai pembukaan Novena Santo Fransiskus Xaverius, ia bersama pengurus Rukun Santo Fransiskus Xaverius memulai kunjungan kasih ke rumah-rumah umat yang sakit dan lanjut usia di Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Sejak pukul 07.15 hingga 08.30 WIT, satu per satu pintu diketuk. Di balik dinding rumah sederhana, harapan dan kerinduan akan sapaan Tuhan seperti menemukan jalannya.
Di kamar yang remang, Ibu Maria Kelbulan menyambut dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya terbaring lemah, namun suaranya bergetar penuh syukur.
“Di tengah sakitku, aku merasa dilupakan dunia, namun hari ini aku sadar Tuhan tidak pernah lupa. Kedatangan Pastor adalah jawaban atas doa-doa sepiku,” ujarnya lirih.
Tak jauh dari sana, Bapak Wilhelmus Londar merasakan hal serupa. Baginya, kunjungan itu bukan sekadar agenda pastoral, melainkan tanda nyata kehadiran Gereja.
“Langkah kaki kalian terasa seperti langkah kaki Kristus sendiri. Hari ini, Gereja-lah yang datang mengunjungi saya,” katanya.
Bagi Bapak Moses Samponu, usia senja kerap menghadirkan rasa terasing. Namun pagi itu menghadirkan keteduhan berbeda.
“Usia tua membuatku merasa terasing, namun kunjungan ini mengingatkanku bahwa aku masih bagian dari kawanan domba Allah,” tuturnya.
Kerinduan panjang juga dirasakan Ibu Yustina Loka. Ia menyebut kehadiran komunitas sebagai penguat di tengah sakit yang dideritanya.
“Sakit ini terasa lebih ringan ketika saya tahu komunitas iman saya tetap memeluk saya dalam doa dan kehadiran nyata,” katanya.
Sementara itu, Ibu Indonesia Fenyapwain menyampaikan ungkapan yang sederhana namun sarat makna.
“Hari ini saya merasakan kemerdekaan sejati dari rasa kesepian. Terima kasih telah membawa berkat Tuhan ke rumah saya,” ujarnya.
Di tengah rangkaian kunjungan itu, pengurus rukun juga mengaku tersentuh. Mereka datang dengan niat menguatkan, namun justru pulang dengan iman yang diteguhkan.
“Melihat mata mereka yang berkaca-kaca menyambut kami, kami tersadar bahwa melayani bukan hanya soal organisasi, tapi soal menyentuh luka dan memberi harapan,” ungkap salah satu pengurus.
Pastor Ponsianus menyebut kunjungan tersebut sebagai bagian dari makna Prapaskah yang sejati.
“Sebagai gembala, hatiku bergetar melihat domba-dombaku yang tetap setia meski dalam keterbatasan. Di kamar-kamar yang sunyi ini, aku menemukan altar yang sesungguhnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Prapaskah ini bukan sekadar tentang pantang dan puasa, tapi tentang belas kasih yang bergerak.”
Bagi Paroki HKY Olilit Barat, kunjungan itu bukan rutinitas semata, melainkan wujud nyata sakramen kehadiran, di mana Gereja berjalan, menyapa, dan menguatkan umat yang mungkin terlupakan oleh hiruk-pikuk dunia.(rls:po/jk)










