JAKARTA info86news.com Komjen Pol Suyudi Ario Seto resmi menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), menggantikan Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, setelah mendapat persetujuan DPR RI dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Sebelumnya, Komisi III DPR RI menyetujui Suyudi sebagai calon Kapolri secara aklamasi setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Hasil tersebut kemudian dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI untuk mendapatkan persetujuan.
Dalam proses uji kelayakan di hadapan Komisi III DPR RI, Suyudi menyampaikan visi kepemimpinannya dengan menekankan pentingnya tanggung jawab, akuntabilitas, pengawasan, serta kedekatan Polri dengan masyarakat.
Suyudi menegaskan bahwa jabatan Kapolri bukan sekadar jenjang tertinggi dalam karier kepolisian, tetapi merupakan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada negara dan masyarakat.
«“Bagi saya, jabatan Kapolri bukanlah puncak karier. Jabatan Kapolri adalah puncak tanggung jawab,” tegas Suyudi.»
Ia juga menyatakan tidak ingin kepemimpinan Polri hanya dinilai dari banyaknya program, slogan, operasi, rapat maupun publikasi. Menurutnya, ukuran keberhasilan harus terlihat dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
«“Apabila memperoleh amanah, saya siap dinilai dari hasil, bukan dari janji,” ujar Suyudi.»
Suyudi menyatakan siap mempertanggungjawabkan kepemimpinannya sesuai konstitusi, menjalani mekanisme pengawasan DPR, menghormati proses hukum, bekerja bersama lembaga pengawas, serta membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan koreksi terhadap kinerja Polri.
Bawa Semangat “Polisi Bersama Masyarakat”
Dalam paparannya, Suyudi juga membawa gagasan “Polisi Bersama Masyarakat” sebagai arah kepemimpinan Polri.
Gagasan tersebut menekankan pentingnya polisi hadir ketika masyarakat membutuhkan, memberikan pelayanan yang cepat, menegakkan hukum secara adil, terbuka terhadap pengawasan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan.
Ia menekankan bahwa kekuatan Polri tidak semestinya dibangun melalui rasa takut, melainkan melalui kepercayaan masyarakat.
«“Polri yang kuat bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya,” katanya.»
Suyudi juga menyoroti pentingnya perubahan dalam pelayanan kepolisian. Masyarakat, kata dia, harus dapat menyampaikan laporan tanpa harus menunggu sebuah perkara menjadi viral terlebih dahulu.
Ke depan, ia ingin keberhasilan Polri tercermin melalui pelayanan yang lebih mudah, respons yang lebih cepat, kepastian dalam penanganan perkara, perlindungan terhadap korban, serta penegakan hukum yang adil dan transparan.
Kepemimpinan Diuji Melalui Kerja Nyata
Dengan resmi disetujuinya Suyudi sebagai Kapolri, tongkat komando tertinggi Polri kini beralih dari Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo kepada dirinya.
Pergantian kepemimpinan tersebut sekaligus menempatkan Suyudi pada tanggung jawab besar untuk memastikan arah pembenahan dan pelayanan Polri dapat diwujudkan dalam kerja nyata di lapangan.
Suyudi menutup pandangannya dengan menegaskan makna pengabdian sebagai anggota Polri.
«“Menjadi polisi adalah kehormatan, memimpin Polri adalah amanah, dan mengabdi bersama masyarakat adalah tujuan.”»
Dengan mandat baru tersebut, perhatian publik selanjutnya akan tertuju pada bagaimana visi “Polisi Bersama Masyarakat” diterjemahkan menjadi kebijakan, pelayanan, penegakan hukum, dan kinerja nyata jajaran Polri di seluruh Indonesia.
(Redaksi)










