http://info86news.com | Saumlaki, Senin, 15 Juni 2026 – Selama tiga tahun terakhir, setiap fajar menyingsing di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, selalu menghadirkan pemandangan yang sama. Di tengah dinginnya pagi, bahkan ketika hujan dan angin datang silih berganti, umat tetap melangkahkan kaki menuju gereja untuk mengikuti Misa Harian dan Novena.
Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, Pastor Paroki HKY Olilit Barat, kesetiaan itu bukan sekadar rutinitas rohani, melainkan tanda nyata bahwa kerinduan umat akan Tuhan jauh lebih besar daripada segala keterbatasan yang mereka hadapi.
Konsistensi menjaga nyala api devosi selama tiga tahun menjadi bukti bahwa kehidupan iman terus bertumbuh melalui doa bersama, yang melibatkan seluruh lapisan umat, mulai dari anak-anak, kaum muda, keluarga, hingga para lansia.
Bagi para orang tua dan lansia, perjalanan menuju gereja setiap pagi bukan lagi sekadar memenuhi kewajiban, tetapi menjadi sumber kekuatan menjalani usia senja.
“Di sisa usia kami, melangkah ke gereja setiap pagi adalah kekuatan hidup. Datang ke gereja dalam cuaca apa pun bukan lagi sebuah kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa. Misa harian ini adalah sumber air hidup yang membuat masa tua kami penuh arti dan jauh dari rasa sepi,” ungkap perwakilan kelompok lansia.
Bagi keluarga muda, Novena menjadi ruang untuk memperkuat fondasi rumah tangga di tengah berbagai tantangan kehidupan.
“Misa pagi dan Novena adalah ‘jangkar’ yang menjaga rumah tangga kami tetap kokoh. Komunitas Peziarah Novena ini telah menjadi keluarga kedua yang saling menguatkan dalam iman,” tutur perwakilan keluarga muda.
Sementara itu, para pelajar dan mahasiswa memaknai doa pagi sebagai bekal sebelum menuntut ilmu. “Sebelum menuntut ilmu, kami bersujud menuntut hikmat Tuhan. Kehadiran kami di gereja setiap pagi adalah bukti bahwa iman Katolik tidak akan punah di tangan generasi muda,” ungkap mereka.
Semangat yang sama juga dirasakan para suster dan koster yang setiap hari mempersiapkan liturgi sejak dini hari.
“Melayani para Peziarah Novena adalah sukacita dan panggilan di dalam panggilan. Antusiasme umat adalah khotbah nyata yang meneguhkan kaul dan kesetiaan pelayanan kami,” ujar mereka.
Melihat kesetiaan umat selama tiga tahun, RD Ponsianus Ongirwalu menyampaikan apresiasi sekaligus pesan pastoral agar devosi tidak berhenti sebagai kebiasaan, tetapi sungguh menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan.
“Peliharalah api ini agar tidak sekadar menjadi rutinitas, melainkan transformator hidup,” pesan RD Ponsianus Ongirwalu.
Ia mengajak seluruh Peziarah Novena untuk menjadikan devosi sebagai penggerak tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kehadiran kita yang setia dalam Misa harian dan Novena harus membuahkan buah-buah Roh dalam kehidupan sehari-hari. Pulang dari gereja, jadilah ‘Alkitab yang terbuka’ bagi tetangga, murah hati kepada yang miskin, dan pembawa damai di lingkungan tempat tinggal,” tegasnya.
RD Ponsianus juga mengingatkan agar devosi kepada para kudus tidak dipahami sebagai relasi yang bersifat transaksional.
“Berdoa Novena bersama para kudus jangan sampai menjebak kita pada pemikiran transaksional, yakni berdoa hanya agar permohonan dikabulkan. Sebaliknya, jadikan Novena sebagai sarana untuk meneladani kebajikan hidup para kudus agar kita semakin serupa dengan Kristus,” katanya.
Selain itu, ia berharap Kelompok Peziarah Novena tetap menjadi komunitas yang terbuka dan mampu mengajak semakin banyak umat untuk mengalami sukacita berjumpa dengan Tuhan.
“Kelompok Peziarah Novena ini harus tetap inklusif dan terbuka. Jadilah saksi-saksi iman yang hangat di luar gereja, sehingga semakin banyak umat yang tergerak untuk ikut merasakan indahnya bersekutu dengan Tuhan di setiap fajar menyingsing,” ajaknya.
Menutup refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu mengingatkan bahwa kekuatan Gereja tidak semata-mata diukur dari bangunan yang megah, melainkan dari kualitas iman umat yang tekun berdoa.
“Kekuatan Gereja tidak terletak pada kemegahan gedungnya, melainkan pada lutut umatnya yang bertelut dalam doa.”
Bagi Paroki HKY Olilit Barat, tiga tahun perjalanan Peziarah Novena bukan hanya catatan tentang konsistensi sebuah devosi.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi kesaksian bahwa ketika doa dipelihara dengan setia, iman bertumbuh, keluarga dikuatkan, generasi muda dibentuk, dan Gereja terus hidup melalui umat yang memilih memulai hari bersama Tuhan.(jk)










