http://info86news.com | Saumlaki – Di tengah kehidupan yang semakin sarat tuntutan dan harapan terhadap orang lain, Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat untuk kembali pada prinsip dasar kehidupan beriman: memulai kebaikan dari diri sendiri.
Dalam renungan pagi yang disampaikan pada Selasa, 23 Juni 2026, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mengingatkan bahwa kualitas iman seseorang tidak hanya terlihat dari doa dan ibadah, melainkan juga dari sikap, perkataan, dan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada Injil Matius 7:6,12-14, Pastor Pius menyoroti apa yang dikenal sebagai golden rule atau hukum emas kehidupan, yakni memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka,” ungkap Pastor Pius mengutip sabda Yesus.
Menurutnya, banyak orang berharap dicintai, dihormati, dihargai, diperlakukan adil, dimengerti, bahkan dimaafkan ketika melakukan kesalahan. Namun sering kali harapan itu tidak diiringi dengan kesediaan untuk terlebih dahulu memberikan hal yang sama kepada sesama.
Menjadi Pelaku Kebaikan
Pastor Pius menegaskan bahwa orang beriman sejati tidak hidup dengan menuntut orang lain berubah terlebih dahulu. Sebaliknya, ia memulai perubahan dari dirinya sendiri.
“Bila kita menghendaki orang lain berbuat baik kepada kita, maka terlebih dahulu kita harus mempraktikkan kebaikan itu dalam hidup bersama. Jangan menuntut orang lain berlaku baik kepada kita, sementara kita sendiri tidak menunjukkan sikap yang pantas kepada mereka,” pesannya.
Baginya, kehidupan selalu berjalan dalam prinsip tabur dan tuai. Apa yang ditanam seseorang pada akhirnya akan kembali kepada dirinya.
Hukum Tabur Tuai dalam Kehidupan
Pastor Pius mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kebaikan yang ditabur akan menghasilkan damai, persahabatan, dan penghormatan. Sebaliknya, kejahatan yang dipelihara hanya akan membawa luka dan kehancuran.
“Ingat hukum tabur tuai. Siapa menabur kebaikan, dia akan menuai kebaikan. Siapa menabur kejahatan, dia akan menuai badai kehancuran dalam hidupnya,” tegasnya.
Pesan ini menjadi ajakan reflektif bagi setiap orang untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, berbicara, maupun mengambil keputusan dalam kehidupan sosial.
Menjadi Teladan yang Dirindukan
Lebih jauh, Pastor Pius menekankan bahwa orang beriman dipanggil bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Kehadiran seorang pribadi yang hidup dalam kasih, kejujuran, dan kerendahan hati akan selalu membawa dampak positif bagi banyak orang.
Menurutnya, pribadi yang sungguh hidup dalam nilai-nilai Kristiani akan menjadi sosok yang dicintai, dirindukan, dan dihormati dalam kehidupan bersama.
“Buatlah pilihan yang tepat dan benar dalam menjalani hidup. Orang beriman yang sejati selalu menjadi role model dalam hidup bersama: dicintai, dirindukan, dan dihormati,” tutup Pastor Pius Heljanan, MSC.
Renungan sederhana ini mengingatkan bahwa perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dan langkah pertama menuju dunia yang lebih baik adalah ketika setiap orang memilih untuk memulai kebaikan dari dirinya sendiri.(jk)










