info86news.com | Saumlaki_
Etok Warwuru (38) sosok milenial politisi muda di Tanimbar, mengutarakan kepada media ini bahwa dalam konteks Demokrasi Elektoral, pemimpin selalu lahir dari proses Election dengan pendekatan One Man/ Woman One Vote melalui Pemilu atau Pilkada. Jumat (27/9/24).

“ Melkianus Sairdekut bukanlah sosok pemimpin “Paper Tiger” sebab tipe pemimpin Paper Tiger tidaklah layak, pilihlah pemimpin yang cerdas, berintegritas, rendah hati, murah senyum, berwatak diplomat dengan publik speaking yang baik” imbuhnya.

Proses yang umumnya dikenal sebagai Pemilihan Langsung ini sering melahirkan pemimpin gagasan yang mampu mengeksekusi kemajuan dan kemandirian sesuai menu yang ditawarkan saat kampanye, namun tak jarang pula menghadirkan orang yang hanya punya kekuatan modal tapi miskin gagasan menjadi pemimpin.

Hal yang menjadi pertanyaan dari Etok, Lantas bagaimanakah dengan Pilkada Tanimbar 2024 ini ? Menjadi menarik untuk dibahas dalam tulisan sederhana ini.
Pasalnya tahapan Pilkada di KPU Tanimbar telah penetapan 5 pasangan calon yang nantinya berkontestasi, tentunya publik Tanimbar sudah punya gambaran siapakah yang akan dipilih di bilik suara.

“ Kami berharap pengguna hak pilih di Tanimbar sedapat mungkin memilih Calon Bupati/ Wakil Bupati yang tampil dengan politik gagasan, mampu merecovery berbagai ketimpangan dan tidak menjadikan identitas tertentu sebagai komoditi politik (SARA) dan hal penting lainnya adalah JANGAN PILIH PAPER TIGER”. tegas Etok.

Ia menjelaskan istilah Paper Tiger (Harimau Kertas) adalah slogan politik yang seringkali digunakan oleh Mao Zedong, Mantan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (China) sekaligus revolusioner Partai Komunis Negeri Tirai Bambu itu untuk menghadapi lawan-lawan politiknya terutama Amerika Serikat.

“ Istilah Paper Tiger berarti seseorang pemimpin yang tampak kuat, tegas, dan berkuasa tapi sebetulnya lemah secara politik, tidak efektif bila diuji.” urainya.

Dengan kata lain, sering menunjukkan sikap tegas, membuat ancaman keras untuk menakut-nakuti lawan, namun ketika tindakan nyata diperlukan, kekuatan dan ketegasan tersebut terbukti kosong dan tidak substansial, sambung Etok sambil meneguk kopi hangatnya.

Lanjutnya mengatakan dimana publik kerap tertipu dengan gaya kepemimpinan Paper Tiger karena percaya bahwa ketegasan dan kekuatannya bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah pembangunan tetapi hal itu hanyalah ilusi karena sebenarnya pemimpin Paper Tiger tak punya kapasitas apa-apa.

Ketika kelemahannya terungkap, publik dan kawan maupun lawan akan kehilangan rasa hormat serta kepercayaan sehingga mengakibatkan hilangnya dukungan dan resistensi meningkat atas kepemimpinannya.

Ciri khas pemimpin Paper Tiger saat dipercayakan karena dianggap punya ketegasan, kuat dan mampu memberi solusi, bahkan mengancam perang, membentak orang, disegani baik kawan maupun lawan tetapi di akhir kekuasaan banyak janji dan program unggulan tidak dieksekusi yang mengakibatkan rakyat sulit merangkak maju.

Hal ini tergambar jelas dalam teori Patron-Klien yang mengkonfirmasikan secara jelas bahwa Kepemimpinan adalah relasi kuasa antara pemimpin (leader) dan yang dipimpin (followers).

Dalam relasi semacam ini, si patron selalu mengandalkan keunggulan personalnya untuk menciptakan sebanyak-banyaknya klien atau yang kerap disebut pengikut.

Bisa dengan kecakapan, kecerdasan intelektual dan ketegasannya, tetapi juga kekuatan uang meski gagasannya pas-pasan seperti yang terjadi belakangan ini di Tanimbar.

“ Yang mampu menerjemahkan atau mengeja ide otentik demi perbaikan Tanimbar, hanya ada pada pasangan calon Melkianus-Kelvin.” tutur Etok optimis.
rilis : #el#
editor : #jk#










