“Jangan Tawar Hati” dari Mimbar GBI Milos Saumlaki

banner 468x60

Di Tengah Pergumulan Hidup, Jemaat Diajak Tetap Teguh
http://info86news.com | Saumlaki, 17 Mei 2026 – Suasana penuh sukacita dan kekhusyukan mewarnai ibadah Minggu Raya di Gereja Bethel Indonesia Miracle of the Lord in Solafide atau GBI Milos Saumlaki, yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Minggu pagi.

Ibadah diawali dengan pujian dan penyembahan yang dipandu pelayan Tuhan, Bima Boritnaban, bersama tim singer dan pemusik yang mengiringi dengan keyboard, drum, dan gitar.

Lagu-lagu rohani bernuansa sukacita mengantar jemaat memasuki suasana penyembahan. “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur,” ajak worship leader di awal ibadah.

Pesan “Jangan Tawar Hati”
Firman Tuhan disampaikan oleh Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, yang mengangkat tema tentang ketekunan iman dan pentingnya menjaga manusia batiniah agar tetap kuat di tengah tekanan hidup. Dalam khotbahnya, Pdt. Heberth mengulas ayat dalam 2 Korintus 4:16-18 tentang manusia batiniah yang terus diperbarui dari hari ke hari.

Ia menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar umat percaya adalah kondisi “tawar hati”. “Bila manusia tawar hati maka sudah tak bisa buat apa-apa. Bila pelayan tidak proteksi diri maka akan dipengaruhi iblis. Tawar hati merupakan senjata ampuh iblis pengaruhi umat Tuhan,” ujarnya di hadapan jemaat.

Menurutnya, tawar hati bukan hanya sekadar kehilangan semangat, tetapi kondisi ketika seseorang mulai lelah secara rohani, kehilangan kekuatan batin, bahkan tidak lagi memiliki kerinduan untuk berdoa dan menyembah Tuhan. “Tawar hati artinya tidak bersemangat, lelah loyo, kehabisan tenaga. Berdoa dan menyembah juga tidak bisa. Manusia batiniah harus terus diisi firman Tuhan,” katanya.

Penderitaan dan Ketekunan Iman
Dalam khotbahnya, Pdt. Heberth juga mengulas Roma 5:1-6 dan Yakobus 1:1-4 yang berbicara tentang penderitaan, ketekunan, dan pengharapan.

Ia mengingatkan jemaat bahwa kehidupan orang percaya tidak selalu identik dengan kenyamanan duniawi. “Ikut Tuhan memang menderita karena fokus kepada keselamatan yang Tuhan sediakan, bukan melihat penderitaan secara jasmani,” ucapnya.

Ia juga menyinggung makna salib dalam kehidupan kekristenan. “Sebelum masa Yesus, salib adalah sebuah hinaan, tapi setelah masa Yesus, salib adalah kemuliaan,” tuturnya.

Dalam penekanannya kepada jemaat, ia mengingatkan agar iman kepada Tuhan tidak dibangun semata-mata demi mengejar kekayaan maupun kesembuhan. “Jangan manfaatkan Tuhan demi kekayaan dan kesembuhan,” katanya.

Ibadah Ditutup dengan Sukacita
Setelah penyampaian firman, ibadah dilanjutkan dengan persembahan jemaat.
Mewakili jemaat, Bima Boritnaban menyampaikan apresiasi atas pelayanan firman yang diberikan. “Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, pihak gereja juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali hadir dalam ibadah di GBI Milos Saumlaki.
“Pintu gereja kami terbuka bagi kehadiran bapak dan ibu pada ibadah selanjutnya,” disampaikan dalam pengumuman gereja.

Ibadah kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Pdt. Heberth S. Wahilaitwan. Jemaat tampak saling berjabat tangan dan meninggalkan gedung gereja dengan suasana penuh kehangatan.

Pesan Gereja dan Tantangan Realitas Sosial
Pesan “jangan tawar hati” yang disampaikan dari mimbar gereja hadir di tengah realitas sosial masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari persoalan ekonomi, konflik sosial, hingga pergumulan hidup sehari-hari.

Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan yang juga menjadi refleksi bersama: bagaimana pesan rohani itu diwujudkan secara nyata dalam pendampingan terhadap umat yang sedang mengalami keterpurukan?

Selain itu, ketika “tawar hati” disebut sebagai salah satu cara yang dapat melemahkan iman umat, gereja juga dihadapkan pada tantangan untuk terus melakukan evaluasi internal terhadap pola pelayanan, kepemimpinan, serta pendekatan sosial kepada jemaat.

Tidak kalah penting, pernyataan bahwa kekayaan tidak selalu membawa seseorang dekat kepada Tuhan turut menjadi pengingat di tengah kritik publik terhadap sebagian wajah pelayanan gereja modern yang kadang diasosiasikan dengan kemewahan dan materialisme.

Dalam konteks itulah, gereja bukan hanya dituntut menjadi ruang ibadah, tetapi juga tempat penguatan moral, pendampingan sosial, serta teladan kesederhanaan bagi umat di tengah perubahan zaman.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *