Pastor Pius Heljanan MSC: Bersyukurlah, Jangan Dikuasai Kekhawatiran

banner 468x60

http://info86news.com | Saumlaki – Di tengah kehidupan modern yang kerap diwarnai persaingan, kecemasan, dan keinginan tanpa batas, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mengajak umat untuk kembali menata orientasi hidup dengan mengutamakan rasa syukur, menolak keserakahan, serta mempercayakan masa depan kepada penyelenggaraan Tuhan.

Melalui refleksi Sabda Tuhan pada Sabtu pagi (20/6/2026), yang bersumber dari Injil Matius 6:24–34, Pastor Pius menegaskan bahwa Yesus mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh kekhawatiran yang justru menghilangkan sukacita dan kedamaian hidup.

Kekhawatiran Melahirkan Keserakahan
Menurut Pastor Pius, salah satu kecenderungan manusia adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dimiliki. Keinginan untuk terus mengejar lebih banyak harta, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia sering kali berawal dari rasa khawatir terhadap masa depan.
Akibatnya, manusia terdorong mengumpulkan segala sesuatu tanpa batas, bahkan rela mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi memenuhi ambisi pribadi.

“Yesus mengingatkan bahaya kekhawatiran yang menghilangkan rasa bahagia dan damai dalam hidup. Sifat manusia adalah tidak pernah merasa puas dan berkata cukup atas apa yang dimiliki dan dinikmati,” ungkap Pastor Pius.

Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Pastor Pius juga mengingatkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan keberhasilan maupun kepemilikan orang lain menjadi salah satu penyebab lahirnya rasa tidak puas.

Perbandingan yang terus-menerus, katanya, hanya akan membuat seseorang merasa selalu kekurangan, meskipun sesungguhnya telah menerima begitu banyak berkat dalam hidupnya. “Membandingkan diri dan milik dengan orang lain membuat kita selalu merasa kurang dalam hidup,” tuturnya.

Tuhan Mengetahui Kebutuhan Umat-Nya
Dalam refleksinya, Pastor Pius mengajak umat untuk mempercayai penyelenggaraan ilahi. Ia menegaskan bahwa Tuhan mengetahui kebutuhan setiap manusia jauh sebelum mereka memintanya.

Karena itu, kekhawatiran yang berlebihan tidak akan menambah apa pun dalam kehidupan, melainkan justru mengurangi kedamaian batin. “Ingat, Tuhan tahu apa yang kita butuhkan,” katanya mengingatkan.

Hidup Bahagia Dimulai dari Rasa Syukur
Pastor Pius menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan seseorang untuk bersyukur dan merasa cukup atas anugerah Tuhan.

Ia mengajak umat agar membangun hidup berdasarkan iman, bukan pada kekuatan materi yang sifatnya sementara. “Kunci hidup bahagia, syukuri semua anugerah Tuhan dalam hidup. Berani berkata cukup atas apa yang kita miliki. Jalani hidup dengan tetap percaya dan mengandalkan Tuhan, bukan mamon,” pesannya.

Iman Menjadi Penuntun Kehidupan
Melalui permenungan Injil Matius 6:24–34, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat menjadikan rasa syukur sebagai fondasi kehidupan sehari-hari. Ketika manusia mampu mengendalikan keinginan, menjauhkan diri dari keserakahan, serta mempercayakan hidup kepada Tuhan, maka hati akan dipenuhi damai yang tidak bergantung pada keadaan dunia.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai tantangan kehidupan, kekayaan terbesar bukanlah apa yang tersimpan di tangan, melainkan iman yang tetap teguh, hati yang penuh syukur, dan keyakinan bahwa Tuhan selalu memelihara setiap orang yang berharap kepada-Nya.(jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *