http://info86news.com | Saumlaki – Pagi masih menyelimuti Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Rabu (17/6/2026). Di tengah keheningan yang menjadi ruang refleksi, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, menyampaikan sebuah pesan rohani yang sederhana, namun sarat makna: jangan menjadikan agama sebagai sarana pencitraan.
Bagi Pastor Pius, kehidupan beriman bukanlah panggung untuk memperoleh pengakuan manusia. Iman justru menemukan maknanya ketika dijalani dengan kejujuran, ketulusan, dan kerendahan hati, sekalipun tidak dilihat ataupun dipuji oleh orang lain.
Pesan tersebut berangkat dari permenungan atas Injil Matius 6:1-6 dan 16-18, ketika Yesus mengingatkan para pengikut-Nya agar tidak meniru sikap orang-orang munafik yang menjalankan praktik keagamaan demi mendapatkan perhatian dan penghormatan dari sesama.
Mengawali refleksinya, Pastor Pius mengutip sabda Yesus yang menjadi inti permenungan hari itu. “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau.”
Menurut Pastor Pius, kalimat tersebut mengandung pesan mendalam bahwa Tuhan tidak hanya melihat apa yang tampak di hadapan manusia, tetapi juga menilai motivasi yang tersembunyi di dalam hati setiap orang.
“Saudaraku, Yesus dalam pengajaran mengingatkan pengikut-Nya untuk tidak bersikap seperti orang munafik. Mereka menggunakan agama sebagai tameng kenyamanan diri dan pamer diri,” ujar Pastor Pius Heljanan, MSC.
Ia menegaskan bahwa setiap tindakan yang lahir dari iman, baik dalam bentuk doa, memberi, menolong sesama, maupun berbagai karya kemanusiaan lainnya, seharusnya bertolak dari kemurnian hati, bukan demi membangun citra diri.
“Hal beragama, beriman, memberi, menolong dan berbuat baik sejatinya lahir dari kemurnian dan ketulusan hati. Beriman benar dan berbuat baik terarah pada Tuhan demi keselamatan, bukan mencari pujian manusia,” katanya.
Di tengah perkembangan kehidupan sosial yang semakin dipengaruhi ruang publik dan media sosial, Pastor Pius mengingatkan bahwa nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang melihat, melainkan oleh ketulusan motivasi di hadapan Tuhan.
Ia mengajak umat agar tidak membungkus kewajiban agama maupun tindakan kemanusiaan dengan kepentingan memperoleh penghormatan, popularitas, ataupun pengakuan dari orang lain.
“Jangan lakukan kewajiban agama dan tindakan kemanusiaan dengan motivasi tersembunyi untuk mencari pujian, penghormatan, dan supaya dianggap orang baik. Beragamalah tanpa pencitraan dan berbuat baik tanpa mencari validasi. Tuhan tahu siapa dirimu yang sebenarnya,” pesan Pastor Pius.
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas iman tidak diukur dari seberapa sering seseorang tampil di hadapan publik, melainkan dari kesetiaan menjalankan kehendak Tuhan dalam kesunyian, tanpa mengharapkan tepuk tangan manusia.
Bagi Pastor Pius Heljanan, ketulusan adalah wajah sejati dari iman. Ketika seseorang berbuat baik semata-mata karena kasih kepada Tuhan dan sesama, di situlah iman menemukan makna terdalamnya.
Sebab, seperti sabda Yesus dalam Injil Matius, Bapa yang melihat segala sesuatu yang tersembunyi adalah Dia yang mengetahui isi hati setiap orang dan akan memberikan ganjaran menurut ketulusan, bukan menurut pencitraan.










