http://info86news.com | Saumlaki – Pastor Pius Heljanan, MSC mengajak umat untuk berani mengakui kesalahan dan hidup rendah hati di hadapan Allah.
Ajakan tersebut disampaikan dalam refleksi rohani pada Sabtu pagi, 14 Maret 2026, di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran.
Pastor yang melayani sebagai Kuasi Paroki di gereja tersebut menegaskan bahwa kejujuran untuk mengakui dosa merupakan langkah penting dalam kehidupan iman umat beriman.
Refleksi yang disampaikannya merujuk pada perikop Injil Lukas 18:9–14 tentang perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai.
“Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah. Tidak mudah seseorang jujur mengakui kesalahannya,” kata Pastor Pius.
Menurutnya, pesan Injil menegaskan bahwa Allah membenarkan orang yang rendah hati yang mengakui dosa-dosanya, bukan mereka yang memandang diri lebih benar dari orang lain.
“Injil menegaskan bahwa Allah membenarkan orang yang rendah hati mengakui dosa, seperti pemungut cukai, bukan orang sombong yang memandang rendah sesama seperti orang Farisi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemungut cukai dalam perumpamaan tersebut menyadari kedosaannya dan memohon belas kasih Allah, serta menggantungkan hidupnya kepada Tuhan.
Sebaliknya, orang Farisi digambarkan sebagai pribadi yang membanggakan diri di hadapan Tuhan dengan sikap kesombongan rohani.
Pastor Pius mengatakan sikap merasa diri paling benar sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti suka memamerkan kebaikan, merasa paling suci, serta mudah menghakimi sesama.
“Kebenaran sejati lahir dari pribadi yang jujur mengakui kesalahan dan bersandar pada belas kasih Allah dalam hidup,” kata Pastor Pius.
Ia pun mengajak umat untuk meneladani sikap pemungut cukai yang datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan sebagai manusia.
“Mari belajar tampil di hadapan Allah dan sesama seperti pemungut cukai, selalu rendah hati dan berani mengakui keterbatasan serta kedosaan kita,” ujarnya.(rls:ws/jk)










