Potret Sekolah Terpencil di Tanimbar: Belajar di Tengah Keterbatasan

banner 468x60

http://info86news.com | Kondisi pendidikan di Desa Romnus, Kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, hingga kini masih diwarnai berbagai keterbatasan. Di tengah upaya menghadirkan layanan pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil, fasilitas dasar sekolah justru belum terpenuhi secara memadai.

Kepala SMP Negeri 6 Wuar Labobar, N. Lambatir, mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah berupaya mengusulkan kebutuhan ruang kelas melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sesuai arahan dari dinas pendidikan. “Kami dari pendidikan sudah usul melalui Dapodik karena kepala dinas pendidikan bilang, bila kita mau dapat bantuan ruangan kita harus melalui Dapodik, kami sudah lakukan itu tapi sampai sekarang belum ada,” ujarnya, Selasa (28/04/2026).

Belajar dengan Fasilitas Seadanya
Meski bangunan sekolah telah berdiri sejak 2023, kondisi di lapangan masih jauh dari layak. Hanya dua ruang kelas yang tersedia, itupun tanpa dilengkapi sarana pendukung seperti meja dan kursi. Ruang yang terbatas membuat pihak sekolah harus berinisiatif menyekat ruangan agar dapat digunakan oleh tiga tingkat kelas.

Namun, keterbatasan tetap terasa, termasuk ketiadaan ruang kantor guru. “Guru biasa berkantor saja di emperan, saya kepala sekolah juga duduk di luar,” kata Lambatir.

Situasi ini memaksa para guru untuk bergantian menggunakan ruang yang ada, sementara sebagian lainnya menunggu di luar hingga jadwal mengajar tiba. Proses belajar mengajar pun berjalan dalam kondisi yang tidak optimal.

Tanpa MCK dan Rumah Guru
Persoalan lain yang tak kalah mendasar adalah tidak adanya fasilitas sanitasi di lingkungan sekolah. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kenyamanan dan kelancaran aktivitas belajar. “MCK sekolah juga tidak ada sehingga kami para guru harus pulang ke rumah masing-masing… ini sangat mengganggu proses belajar mengajar,” ungkapnya.

Selain itu, tidak tersedianya rumah dinas guru menjadi tantangan serius. Sebagian besar tenaga pengajar berasal dari luar daerah dan harus menumpang di rumah warga atau menyewa tempat tinggal sederhana. “Kami masih tinggal di rumah masyarakat menumpang, guru-guru bayar sewa tiap bulan Rp200.000,” tambahnya.

Keterbatasan Anggaran Desa
Kepala Desa Romnus, Daud Keliduan, menyatakan bahwa keterbatasan anggaran desa menjadi kendala utama dalam pemenuhan fasilitas pendidikan tersebut.
“Bangunan fisik SMP sudah dibangun, tapi belum ada mobiler. Jadi setiap siswa membawa kursi dan meja sendiri dari rumah,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan rumah guru membutuhkan biaya besar yang tidak dapat ditanggung oleh dana desa. “Kalau sampai puluhan juta, kami tidak sanggup,” katanya.

Pembangunan Swadaya dan Tantangan Lapangan
Operator sekolah, Samuel Lartutul, menjelaskan bahwa pembangunan sekolah sejak awal dilakukan dengan semangat swadaya, meski tanpa dukungan anggaran yang memadai. “Belum ada dana satu rupiah pun, kami dengan penuh semangat membangun pendidikan di sana,” ujarnya.

Ia menyebut, ruang kelas yang ada bahkan harus disekat menggunakan bahan sederhana agar dapat digunakan oleh siswa dari kelas 1 hingga kelas 3.

Di sisi lain, tantangan geografis juga menjadi hambatan. Saat musim hujan, akses menuju sekolah terganggu akibat sungai yang meluap. “Kalau hujan besar, siswa harus menyebrang dan basah ke sekolah,” katanya.

Dampak pada Guru dan Proses Belajar
Kondisi ini turut memengaruhi keberlangsungan tenaga pengajar. Banyak guru tidak bertahan lama karena minimnya fasilitas, terutama ketiadaan rumah dinas.
“Guru yang ditugaskan 90 persen ibu-ibu, mereka sering tidak betah karena tidak ada rumah guru,” jelas Samuel.

Situasi tersebut kerap menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat yang menilai kinerja guru kurang optimal, tanpa mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
“Masyarakat sering melaporkan pihak sekolah, padahal kondisi inilah yang membuat sekolah tidak nyaman,” tambahnya.

Harapan kepada Pemerintah
Pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di wilayah tersebut, khususnya dalam penyediaan ruang kelas, mobiler, MCK, serta rumah dinas guru. “Tolonglah lihat kami, kami ini juga anak-anak Indonesia yang harus diperhatikan,” pinta Kepala Sekolah.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah daerah maupun dinas pendidikan terkait kondisi tersebut.
Di tengah segala keterbatasan, semangat belajar siswa dan pengabdian para guru tetap bertahan.

Namun, tanpa dukungan fasilitas yang memadai, masa depan pendidikan di Romnus masih menghadapi jalan panjang menuju kelayakan.(rls:jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *