http://info86news.com | Saumlaki — Pastor Paroki RD Ponsianus Ongirwalu menuntaskan rangkaian kunjungan pastoral selama lebih dari enam bulan di Rukun Santo Yohanes Paulus II, Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan pastoral yang berlangsung sejak akhir 2025 itu ditutup dengan kunjungan ke lima keluarga terakhir umat rukun setempat. Dalam kunjungan tersebut, Pastor bersama pengurus rukun melakukan doa bersama, dialog keluarga, serta peneguhan iman bagi umat.
Dalam refleksi penutupnya, RD Ponsianus Ongirwalu menegaskan bahwa berakhirnya program kunjungan pastoral bukan berarti pelayanan Gereja kepada umat ikut berhenti. Menurutnya, tugas penggembalaan harus terus berjalan sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan pelayanan. “Secara seremonial kunjungan keluarga di rukun ini memang berakhir, namun ketahuilah bahwa langkah kaki dan hati seorang gembala tidak akan pernah berhenti untuk umatnya,” ujar Pastor Ponsianus di hadapan umat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kehidupan doa dalam keluarga sebagai dasar kekuatan iman umat Katolik di tengah berbagai tantangan kehidupan sosial saat ini. “Jangan biarkan doa-doa yang telah kita daraskan bersama menguap begitu saja. Jadikan rumah kalian bait Allah yang hidup, tempat firman-Nya direnungkan dan kasih-Nya dipraktekkan setiap hari,” katanya.
Selain menekankan kehidupan doa, Pastor Ponsianus turut mengajak umat menjaga semangat persaudaraan atau “Duan Lolat” dalam kehidupan komunitas Gereja.
Menurut dia, solidaritas dan kepedulian antarumat menjadi kekuatan utama dalam membangun kehidupan menggereja yang sehat dan harmonis. “Jangan ada yang merasa berjalan sendirian. Saling menopang yang lemah, saling menghibur yang berduka, dan saling bersukacita dalam keberhasilan sesama,” ucapnya.
Rangkaian kunjungan pastoral tersebut mendapat respons positif dari umat. Sejumlah keluarga mengaku merasa diperhatikan dan dikuatkan melalui kehadiran langsung Pastor dan pengurus rukun di rumah mereka.
Salah satunya disampaikan keluarga Yosep Melsasail yang menilai kunjungan pastoral membawa suasana baru dalam kehidupan keluarga mereka. “Kehadiran Pastor dan Pengurus Rukun di rumah kami laksana embun penyejuk. Kami merasa begitu dihargai dan diperhatikan sebagai bagian dari tubuh Gereja,” ungkap keluarga tersebut.
Hal senada disampaikan keluarga Philipus Futwembun. Mereka menyebut kunjungan pastoral menjadi pengingat bahwa kehidupan iman tidak dijalani secara sendiri-sendiri, melainkan dalam semangat komunitas dan kebersamaan. “Ketika Gereja hadir langsung di ruang tamu kami, ada rasa aman dan sukacita besar yang membakar semangat kami untuk terus terlibat dalam kegiatan rukun,” ujar keluarga itu.
Sementara itu, Ketua Rukun Santo Yohanes Paulus II mengakui kunjungan pastoral selama enam bulan membuka ruang kedekatan emosional antara Gereja dan umat.
Ia menyebut banyak umat merindukan perhatian, sapaan, dan pendampingan pastoral secara langsung. “Saya menyaksikan sendiri betapa umat kita rindu untuk disapa, didengarkan, dan didoakan. Lelah fisik itu ada, tetapi sukacita saat melihat senyum umat ketika rumah mereka diberkati mengalahkan segalanya,” katanya.
Kegiatan kunjungan pastoral tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Gereja memperkuat relasi pelayanan berbasis keluarga di tengah kehidupan umat Katolik di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Selain pendekatan rohani, kunjungan itu juga dinilai menjadi ruang mendengar langsung berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun pergumulan hidup umat di tingkat keluarga.(jk)










