RD Ponsianus Ongirwalu: Pertobatan Menghancurkan Kusta Keangkuhan

banner 468x60

http://info86news.com | Saumlaki – Pastor Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Olilit Barat, RD Ponsianus Ongirwalu, mengajak umat untuk menjalani pertobatan sejati dengan merendahkan hati di hadapan Tuhan dan sesama selama masa Prapaskah.

Pesan tersebut disampaikan RD Ponsianus Ongirwalu dalam refleksi Misa Pertobatan Rukun Santo Paulus pada Senin Pekan III Prapaskah di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Selasa (10/3/2026).

Dalam refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu mengangkat tema “Pulang ke Rumah Bapa dengan Hati yang Baru” yang terinspirasi dari kisah Naaman dalam Kitab 2 Raja-raja serta kisah Yesus yang ditolak di Nazaret dalam Injil Lukas.

Menurutnya, kisah Naaman yang harus membenamkan diri tujuh kali di Sungai Yordan mengajarkan bahwa kesembuhan dan pemulihan hanya dapat terjadi ketika seseorang mampu menurunkan keangkuhan.

“Pertobatan adalah proses membenamkan ego kita agar kita lahir kembali menjadi pribadi yang bersih,” kata RD Ponsianus Ongirwalu.

Ia menjelaskan bahwa pertobatan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menyentuh relasi dengan orang tua, anak-anak, serta sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam hubungannya dengan orang tua, RD Ponsianus Ongirwalu mengingatkan umat agar memiliki kerendahan hati serta menghormati mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

“Pertobatan berarti memohon ampun atas kata-kata kasar dan ketidaksabaran kita kepada orang tua, serta tetap mendoakan mereka yang telah berpulang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan para orang tua untuk membangun keluarga sebagai tempat pendidikan iman bagi anak-anak, bukan sekadar tempat tuntutan dan tekanan.

“Sering kali kita menuntut anak menjadi sempurna, tetapi lupa menunjukkan kepada mereka bagaimana hidup dengan kasih,” kata RD Ponsianus Ongirwalu.

Dalam relasi dengan Tuhan, ia menegaskan bahwa manusia kerap kali mencari Tuhan hanya saat mengalami kesulitan, bukan karena cinta dan iman yang tulus.

“Kita sering mendikte Tuhan dalam doa dan mencari-Nya hanya saat membutuhkan pertolongan,” ujarnya.

RD Ponsianus Ongirwalu juga mengajak umat di lingkungan Rukun Santo Paulus untuk memperkuat kebersamaan dan saling mendukung dalam kehidupan komunitas.

Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam sikap saling menjatuhkan melalui gosip atau kritik yang tidak membangun.

“Di dalam komunitas, kita dipanggil menjadi sungai yang menyembuhkan, bukan tebing yang menjatuhkan sesama,” katanya.

Menutup refleksinya, RD Ponsianus Ongirwalu menegaskan bahwa Sakramen Pertobatan bukan sekadar ritual, tetapi menjadi momentum pembaruan hidup.

“Sakramen pertobatan adalah operasi jantung rohani yang mengajak kita hidup baru dalam terang dan membawa damai Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.(rls:wu/jk)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *