http://suaraanaknegerinews.com | Pagi itu, suasana di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, Desa Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, terasa berbeda dari biasanya.
Selasa, 26 Mei 2026, tepat pukul 07.30 hingga 08.30 WIT, menjadi penanda berakhirnya Safari Kunjungan Keluarga Rukun Bunda Hati Kudus (BHK), sebuah perjalanan pastoral yang telah berlangsung selama enam bulan penuh.
Bersama umat, Ketua Rukun dan Badan Pengurus Rukun (Baperus), Ponsianus Ongirwalu menuntaskan kunjungan ke tiga keluarga terakhir sebagai penutup seluruh rangkaian ziarah iman dari rumah ke rumah. “Langkah kaki yang dituntun oleh kasih, tidak akan pernah dihentikan oleh hujan maupun panas.”
Kalimat reflektif itu menjadi gambaran perjalanan panjang yang dijalani dengan ketulusan dan pengabdian. Selama enam bulan, langkah demi langkah dilalui. Ada panas matahari yang menyengat, hujan yang membasahi perjalanan, hingga kelelahan fisik yang harus dihadapi. Namun semuanya terasa ringan karena satu alasan: kerinduan untuk hadir di tengah umat.
Bagi warga Rukun BHK, kunjungan pastoral itu bukan sekadar agenda rutin gereja, melainkan wujud nyata perhatian dan kasih yang menyentuh kehidupan keluarga.
Soni Maturbongs mengaku merasakan kehadiran gereja secara langsung di dalam rumahnya.
“Kunjungan ini bukan sekadar program rutin, melainkan kehadiran Tuhan yang nyata di dalam rumah kami. Ketika Pastor dan Pengurus melangkah masuk ke rumah kami, kami merasakan bahwa Gereja itu dekat, Gereja itu peduli,” ungkapnya.
Menurut Soni, perhatian sederhana yang dibawa pastor dan pengurus rukun telah memberi kekuatan baru bagi keluarganya dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Kesan mendalam juga disampaikan Toni Futunanembun. Ia menilai perjalanan enam bulan itu menjadi kesaksian iman yang hidup bagi umat. “Menyaksikan komitmen mereka yang tetap melangkah tanpa henti, baik dalam cuaca panas maupun hujan, menjadi kesaksian iman yang luar biasa bagi kami warga rukun,” katanya.
Bagi Toni, safari kunjungan keluarga tersebut tidak hanya mempererat hubungan antara pastor dan umat, tetapi juga memperkuat persaudaraan antarwarga di lingkungan rukun.
Sementara itu, Yoseph Ndity mengaku dialog sederhana, doa keluarga dan sapaan hangat yang hadir selama kunjungan telah memulihkan semangat imannya. “Dialog sederhana di ruang tamu, doa bersama di altar keluarga, dan sapaan hangat yang penuh kasih telah memulihkan semangat iman kami yang mungkin sempat layu,” ujarnya.
Ia berharap sukacita dan persekutuan yang telah dibangun selama enam bulan itu tetap hidup dalam keseharian umat. Di balik seluruh perjalanan tersebut, Ketua Rukun dan Baperus BHK menyimpan rasa haru dan syukur mendalam.
Mereka mengaku memulai safari pastoral itu dengan berbagai pertanyaan dan keterbatasan. Namun perjalanan panjang itu justru memperlihatkan betapa besar kerinduan umat akan perhatian, doa dan kebersamaan. “Enam bulan lalu kami memulai langkah ini dengan penuh tanya, namun hari ini kami mengakhirinya dengan penuh sukacita,” ungkap perwakilan pengurus rukun.
Menurut mereka, tantangan cuaca dan kondisi perjalanan tidak pernah mampu menghentikan semangat pelayanan. “Tantangan alam sama sekali tidak menyurutkan langkah ini, karena setiap langkah kaki kami dikuatkan oleh semangat Bunda Hati Kudus,” lanjutnya.
Di penghujung safari pastoral tersebut, Pastor Ponsianus Ongirwalu menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh umat Rukun Bunda Hati Kudus. “Safari kunjungan rumah ke rumah ini telah berakhir secara seremonial hari ini, namun ziarah iman kita sebagai satu keluarga Allah baru saja memasuki babak baru,” tuturnya.
Ia mengingatkan umat agar menjaga kehidupan doa dalam keluarga dan menjadikan rumah sebagai tempat bertumbuhnya iman. “Jangan biarkan berkat dan kedamaian yang kita doakan bersama selama kunjungan menguap begitu saja. Jadikan rumah kalian bait doa yang hidup setiap hari,” pesannya.
Pastor Ponsianus juga mengajak umat terus memelihara semangat cinta kasih, saling menopang dan menjaga persatuan dalam kehidupan bersama. “Rukun ini akan kuat jika setiap keluarga saling mendukung. Jangan biarkan ada tembok pemisah di antara kita,” katanya.
Di akhir refleksi, Pastor Ponsianus menyampaikan apresiasi kepada Ketua Rukun dan Baperus yang selama enam bulan setia mendampinginya berjalan kaki dari rumah ke rumah. “Tuhan memberkati setiap tetes keringat kita, dan semoga Bunda Hati Kudus selalu melindungi seluruh keluarga kita. Amin.”
Safari Kunjungan Keluarga Rukun Bunda Hati Kudus memang telah selesai secara seremonial. Namun bagi umat di Olilit Barat, jejak kasih yang ditinggalkan dari rumah ke rumah akan terus hidup sebagai nyala persaudaraan dan iman dalam kehidupan sehari-hari.(jk)










